80.000 Jadi Pengangguran di 2026, Gelombang PHK Sudah Parah

Redaksi,  CNBC Indonesia
08 April 2026 17:50
Infografis/Bukan Menakuti, Corona Bikin Parah Tsunami PHK di RI/Aristya Rahadian Krisabella
Foto: Infografis/Tsunami PHK di RI/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terus berlanjut dan menunjukkan tren peningkatan. Sepanjang tiga bulan pertama di 2026, nyaris 80.000 pekerjaan terdampak.

Menurut Kepala AI di salah satu perusahaan outsorcing terbesar di dunia, secara total ada 78.557 karyawan di seluruh dunia yang kena PHK di sektor teknologi dalam periode 1 Januari hingga 1 April 2026.

Amerika Serikat (AS) berkontribusi paling besar dengan 76,7% dari total PHK sektor teknologi di awal 2026, menurut analisis dari RationalFX. Data yang dikumpulkan bersumber dari pengumuman PHK, pemberitahuan departemen tenaga kerja, dan situs-stus tracking pekerjaan teknologi.

Hampir setengah dari PHK global di industri teknologi, atau 37.638 yang terdampak, dikaitkan secara langsung atau tidak langsung terhadap implementasi AI dan otomasi alur kerja, menurut analisis RationalFX.

Babak Hodjat, Chief AI di Cognizant, salah satu penyedia layanan IT terbesar di dunia, mengatakan kemungkinan butuh waktu hingga satu tahun lagi hingga dampak AI terhadap bursa kerja benar-benar menjadi jelas.

Artinya, jumlah PHK saat ini di sektor teknologi global masih belum menunjukkan dampak sepenuhnya. Secara angka, AS memimpin PHK di sektor teknologi dengan 59,510 yang terdampak. Kemudian disusul Australia (4.450), Austria (2.000), Swedia (1.938), dan Belanda (1.700).

Selanjutnya ada India (1.620), Israel (1.539), Singapura (1.196), Inggris (1.050), dan Spanyol (750), dikutip dari Nikkei Asia, Rabu (8/4/2026).

"Saya tidak tahu apakah PHK pada kuartal pertama ini berhubungan langsung dengan peningkatan produktivitas yang sebenarnya," kata Hodjat.

Menurutnya, pengurangan tenaga kerja juga dapat didorong ekspektasi bahwa AI akan meningkatkan produktivitas, bukan oleh peningkatan yang sebenarnya.

"Terkadang, AI menjadi kambing hitam dari perspektif keuangan, seperti ketika sebuah perusahaan mempekerjakan terlalu banyak karyawan, atau mereka ingin mengurangi ukuran perusahaan, dan itu disalahkan pada AI," tambahnya.

Ia mengatakan, bukan berarti AI tidak berdampak terhadap PHK saat ini. Namun, ia menilai masih butuh waktu 6 bulan atau 1 tahun lagi dari sekarang hingga jumlah PHK sebenarnya akan benar-benar terdampak dari AI, karena peningkatan produktivitasnya akan terlihat secara nyata.

"Saya pikir itu akan menyakitkan bagi kita semua saat kita melewatinya, dan saat ini masih masa transisi," kata Hodjat.

Menurutnya, akan lebih banyak tantangan yang dialami perusahaan dalam masa transisi untuk mengintegrasikan AI ke alur kerja. Cognizant sendiri dikatakan masih mengalami proses transisi saat ini.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Profesi Lama Ramai Diserbu, Gaji Rp 1,6 Miliar Tak Butuh Ijazah Kuliah


Most Popular
Features