Kunang-Kunang Hilang Satu per Satu, Ahli IPB Ungkap Tanda Petaka

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 18:40 WIB
Foto: (Istimewa)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Hewan yang identik dengan cahaya indahnya saat malam hari, kunang-kunang, kini makin langka dan sulit dijumpai di alam liar. Fenomena yang belakangan banyak dikeluhkan netizen di media sosial ini ternyata menjadi alarm serius terkait makin memburuknya kualitas lingkungan di Indonesia.

Dosen sekaligus peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, menegaskan bahwa keberadaan kunang-kunang bukan sekadar pemandangan estetis, melainkan parameter kesehatan ekosistem.

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," tegas Kesumawati, dikutip dari laman resmi IPB University, Senin (3/8/2026).


Ancaman Global dan Status Rentan

Ancaman punahnya serangga pembawa cahaya ini rupanya bukan hanya terjadi di Tanah Air, melainkan sudah menjadi krisis global.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat sekitar 11% hingga 20% spesies kunang-kunang di dunia kini terancam punah. Bahkan, beberapa spesies spesifik yang menghuni kawasan mangrove di Indonesia, Malaysia, dan Thailand sudah resmi masuk dalam kategori rentan (vulnerable).

Penyebab utamanya adalah masifnya alih fungsi lahan. Area hijau, rawa-rawa, hingga lahan persawahan yang terus digusur menjadi kawasan permukiman dan industri telah menghancurkan habitat alami mereka secara dramatis.

'Musuh Utama' Lampu LED dan Pestisida Kimia

Selain deforestasi dan alih fungsi lahan, musuh tak terlihat dari kunang-kunang adalah polusi cahaya dari penggunaan lampu LED yang kelewat terang.

Cahaya buatan dari perkotaan mengacaukan navigasi dan proses reproduksi mereka. Kunang-kunang jantan menjadi kesulitan mendeteksi pancaran sinyal cahaya dari betina, sehingga kegagalan proses perkawinan meningkat tajam.

Faktor pemicu hilangnya populasi kunang-kunang makin diperparah oleh:

  • Penggunaan insektisida dan pestisida kimia pada pertanian.
  • Perubahan iklim yang memicu kekeringan ekstrem.
  • Semenisasi saluran irigasi yang merusak area bertelur.
  • Laju urbanisasi yang mengubah bentang alam alami secara masif.

Terancam Tinggal Kenangan

Saat ini, kunang-kunang hanya mampu bertahan di wilayah yang lingkungan alaminya masih terjaga ketat, seperti kawasan hutan mangrove, tepi sungai alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap dan jauh dari jangkauan lampu kota.

Jika perusakan lingkungan dan polusi cahaya terus dibiarkan tanpa kendali, generasi mendatang dikhawatirkan hanya bisa melihat fenomena indahnya cahaya kunang-kunang dari buku pelajaran, museum, atau rekaman video semata.

Masyarakat imbau untuk mulai mengambil peran melalui langkah sederhana, seperti menyisakan lahan tanah terbuka di pekarangan rumah (tidak menutup seluruh halaman dengan semen), meredupkan lampu luar ruangan yang terlalu terang, serta beralih ke pupuk organik demi menjaga kelestarian habitat mikro sekitar.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce