Ahli IPB "Salahkan" Lampu LED, Kunang-Kunang Satu per Satu Hilang

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
04 July 2026 20:45
Hewan kunang-kunang. (Istimewa)
Foto: (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kunang-kunang kini semakin jarang dijumpai di alam liar. Fenomena yang juga banyak dikeluhkan masyarakat di media sosial ini ternyata berkaitan erat dengan menurunnya kualitas lingkungan.

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, mengatakan kunang-kunang merupakan salah satu indikator kesehatan suatu ekosistem.

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (4/7/2026).

Penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11-20% spesies kunang-kunang di dunia saat ini masuk dalam kategori terancam. Sementara itu, sejumlah spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah berstatus rentan.

Kesumawati menjelaskan, penyebab utama terus menyusutnya populasi kunang-kunang adalah kerusakan habitat. Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menyebabkan habitat alami serangga tersebut semakin berkurang.

Selain itu, polusi cahaya dari lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses reproduksi kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya yang dipancarkan betina sehingga proses perkawinan menjadi terganggu.

Penurunan populasi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, seperti penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga urbanisasi yang mengubah bentang alam.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di wilayah yang memiliki kondisi lingkungan relatif terjaga, seperti kawasan mangrove, rawa, tepi sungai yang masih alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap serta minim polusi cahaya.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, generasi mendatang dikhawatirkan hanya dapat mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan visual tanpa pernah melihatnya secara langsung di habitat aslinya.

Untuk membantu menjaga populasinya, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana, seperti tidak menutup seluruh halaman rumah dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air agar tetap menjadi habitat yang mendukung kehidupan kunang-kunang.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kunang-Kunang Mendadak Hilang, Ahli IPB Ungkap Ada Tanda Petaka


Most Popular
Features