NASA Blak-blakan Tanda Kiamat, Wilayah RI Dalam Bahaya Besar
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim diperkirakan akan semakin nyata dalam beberapa dekade mendatang. Sejumlah wilayah pesisir di berbagai negara, termasuk Indonesia, disebut menghadapi risiko banjir yang semakin parah hingga potensi tenggelam apabila laju kenaikan air laut terus berlanjut.
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan permukaan air laut global dapat naik sekitar 3 hingga 6 kaki (sekitar 0,9-1,8 meter) pada tahun 2100. Kenaikan ini dipicu oleh mencairnya lapisan es di kutub akibat pemanasan global, yang berpotensi mengancam ratusan juta penduduk yang tinggal di kawasan pesisir.
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Jakarta. Mengutip laporan Sciencing, Sabtu (4/7/2026), ibu kota Indonesia masuk dalam daftar kota-kota besar dunia yang dinilai paling rentan terhadap ancaman kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah.
Tanda-tanda petaka ini mulai terlihat dari fenomena banjir yang paling umum dan makin sering terjadi. Di awal Maret 2025 saja, banjir sudah menggenangi beberapa area Jabodetabek dan Jawa. Bahkan, area Bekasi mencatat kondisi banjir terparah dibandingkan 2016 dan 2020.
"Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Masalah ini kian ekstrem, hingga pemerintah Indonesia memilih memindahkan ibu kota [ke IKN]," tulis laporan Sciencing.
Sciencing melaporkan Jakarta sudah mulai mengalami proses tenggelam dengan air yang naik 17 cm per tahun. Secara geografis, Jakarta terletak di dataran rendah yang dulunya didominasi oleh rawa.
Ada 13 sungai yang mengalir melalui wilayah perkotaan hingga ke Laut Jawa, sehingga seluruh wilayah sangat rentan terhadap naiknya permukaan air. Jakarta juga telah mengalami peningkatan jumlah banjir sejak pergantian abad.
Banjir paling parah terjadi pada tahun 2007, ketika bencana itu merenggut 80 nyawa dan menimbulkan kerugian hingga ratusan juta dolar.
Sciencing juga menyinggung keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke IKN pada 2022. Laman tersebut mengatakan risiko banjir yang tinggi di Jakarta merupakan salah satu alasan pemindahan tersebut, dibarengi dengan polusi dan penyumbatan di mana-mana.
"Ibu kota baru yang dinamai IKN diprediksi akan rampung sepenuhnya pada 2045. Pada saat itu, IKN kemungkinan menjadi pelarian dari Jakarta yang tenggelam," tertulis dalam laporan Sciencing.
Selain Jakarta, berikut beberapa kota besar lain yang terancam tenggelam, menurut laporan Sciencing:
1. Alexandria, Mesir
Kota terbesar kedua di Mesir ini memiliki populasi yang ditaksir mencapai 5,7 juta orang pada 2024. Hingga saat ini, Alexandria menjadi salah satu hub penting untuk perdagangan transbenua, terutama pengapalan minyak.
Kota ini berfungsi sebagai salah satu terminal Pipa SUMED, pipa minyak antara Laut Merah dan Mediterania yang digunakan untuk mengirim minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab ke Eropa.
Sayangnya, dampak negatif dari penggunaan bahan bakar fosil tersebut adalah mencairnya es gletser. Panel iklim PBB memperkirakan sebanyak 30% kota tersebut dapat terendam air pada tahun 2050, yang akan menyebabkan setidaknya 1,5 juta orang mengungsi.
Banjir juga dapat meluas hingga sebagian besar Delta Nil, menghancurkan salah satu tempat lahirnya peradaban.
2. Miami, Amerika Serikat
Miami diestimasikan memiliki populasi 460.000 orang pada 2024. Area metropolitan Miami-Fort Lauderdale merupakan kawasan urban terbesar keempat di Amerika Serikat setelah New York, Los Angeles, dan Chicago.
Lebih dari setengah wilayah Miami-Dade County hanya berada sekitar 6 kaki di atas permukaan laut. Sebanyak 60% wilayahnya diperkirakan terancam tenggelam pada 2060.
Situasi diperparah dengan masifnya pembangunan di kawasan pesisir. Sciencing menyebut, jika skenario terburuk terjadi, tenggelamnya Miami dapat menjadi salah satu bencana dengan kerugian ekonomi terbesar dalam sejarah.
3. Lagos, Nigeria
Lagos merupakan kota terbesar di Afrika dengan populasi sekitar 16,5 juta jiwa pada 2024. Kota ini rutin dilanda banjir yang menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar setiap tahun.
Saat ini, wilayah tersebut mengalami penurunan permukaan tanah lebih dari 3 inci per tahun.
4. Dhaka, Bangladesh
Ibu kota Bangladesh ini dihuni sekitar 23,9 juta penduduk pada 2024. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan Bangladesh sebagai salah satu dari 10 negara yang paling terdampak bencana alam.
Seiring memburuknya perubahan iklim, frekuensi dan intensitas banjir di Dhaka terus meningkat. Kota ini tercatat mengalami penurunan permukaan tanah sekitar setengah inci per tahun.
5. Yangon, Myanmar
Yangon memiliki populasi sekitar 5,7 juta jiwa pada 2024. Sama seperti kota-kota lain dalam daftar, wilayah ini juga kerap dilanda banjir.
Kota tersebut berada tidak jauh dari Sesar Sagaing. Jika gempa besar terjadi, sumur-sumur air tanah dapat runtuh dan menyebabkan sebagian besar wilayah kota tenggelam.
6. Bangkok, Thailand
Bangkok dihuni sekitar 11,2 juta penduduk pada 2024. Kota ini terus kehilangan daratan akibat naiknya permukaan laut.
Garis pantainya diperkirakan terus bergeser lebih dari satu kilometer setiap tahun. Dalam satu abad mendatang, sebagian besar wilayah Bangkok diperkirakan dapat hilang.
7. Kolkata, India
Kota terbesar ketiga di India ini memiliki populasi sekitar 15,6 juta jiwa pada 2024. Selain ancaman kenaikan muka laut, pengambilan air tanah secara berlebihan juga mempercepat penurunan permukaan tanah.
Banjir menjadi bencana yang rutin terjadi. Pada 2024, banjir di Bengal Barat berdampak pada sekitar 250.000 orang. Jika kondisinya memburuk, lebih dari 10 juta penduduk berpotensi mengungsi.
8. Manila, Filipina
Ibu kota Filipina ini memiliki sekitar 14,9 juta penduduk pada 2024. Penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah serta aktivitas vulkanik dari Gunung Taal membuat kota ini semakin rentan.
Manila mengalami laju penurunan sekitar 4 inci per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan muka air laut global. Kerusakan hutan mangrove di Teluk Manila juga memperburuk risiko abrasi dan banjir pesisir.
9. Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau
Kawasan metropolitan terbesar di dunia ini diperkirakan dihuni sekitar 86,9 juta orang pada 2024. Sebagian besar wilayah perkotaannya berada di sekitar Delta Sungai Mutiara yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.
Sciencing menyebut kawasan tersebut berpotensi mengalami kenaikan muka air laut hingga sekitar 5 kaki dalam 100 tahun mendatang. Jika skenario tersebut terjadi, sebagian wilayahnya berisiko terendam air di masa depan.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]