Geger Satwa Langka Muncul di Rumah Warga, Pakar IPB Warning Bahaya

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
20 April 2026 12:05
Macan Tutul di Nagarhole National Park. (Wikipedia)
Foto: Macan Tutul di Nagarhole National Park. (Wikipedia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan satwa langka yang belakangan makin sering terlihat di wilayah pemukiman harga ternyata menjadi pertanda bahaya. Pakar konservasi menilai fenomena ini bisa menjadi sinyal tekanan terhadap habitat alami satwa.

Sebagai informasi, beberapa saat lalu muncul laporan terkait kemunculan Tapir Malaya di Kampung Teluk Merbau, Riau. Kemudian ada juga Lutung Jawa muncul di Desa Peringgulung, Banten. Macan Tutul Jawa juga sempat menghebohkan karena muncul di tengah-tengah pemukiman warga.

Pakar konservasi satwa Institut Pertanian Bogor (IPB), Ani Mardiastuti, mengatakan meningkatnya laporan perjumpaan satwa langka bukan berarti populasi mereka bertambah. Melainkan ada sejumlah faktor yang membuat satwa tersebut lebih sering muncul ke area manusia.

Penyebab utama adalah menyusut dan terfragmentasinya habitat hutan. Kondisi ini membuat ruang hidup satwa semakin sempit sehingga peluang bertemu manusia meningkat.

Menurut Ani, satwa langka sebenarnya sudah lama ada di wilayah tersebut, namun populasinya kecil sehingga jarang terlihat.

Ketika hutan menyusut dan aktivitas manusia masuk ke area habitat, satwa akhirnya lebih sering muncul di permukiman atau wilayah terbuka.

"Karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia," ujar Ani dalam keterangan tertulis di website resmi IPB, dikutip Senin (20/4/2026).

Selain faktor habitat, kemajuan teknologi juga berperan besar dalam meningkatnya temuan satwa langka.

Peneliti kini menggunakan kamera trap berbasis inframerah untuk merekam aktivitas satwa malam hari, serta teknologi bioakustik untuk mendeteksi spesies melalui rekaman suara.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) juga mulai diterapkan untuk mempercepat identifikasi satwa. Sistem ini dapat mengenali individu harimau berdasarkan pola belang, hingga mencocokkan suara burung dengan basis data internasional seperti Xeno-canto.

Pemantauan juga diperkuat dengan penggunaan drone untuk mengamati sarang burung berukuran besar seperti elang jawa, burung pemangsa, hingga bangau di lokasi yang sulit dijangkau, termasuk tebing tinggi dan hutan mangrove.

Ani menambahkan, kemunculan kembali satwa yang lama tak terlihat juga kerap terjadi karena adanya ekspedisi khusus peneliti untuk mencari spesies yang diduga punah. Fenomena ini dikenal sebagai "Lazarus Species", yakni spesies yang muncul kembali setelah lama tidak tercatat.

Jika spesies langka berhasil ditemukan, peneliti kemudian membantu pemerintah menentukan status konservasi berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta penyusunan National Red List Indonesia.

Namun tantangan konservasi tidak hanya soal habitat dan teknologi. Faktor sosial ekonomi juga berperan, termasuk pemanfaatan bagian tubuh satwa untuk kebutuhan adat, seperti burung cendrawasih di Papua.

Meski masyarakat adat memiliki kesadaran konservasi, tekanan ekonomi membuat praktik tersebut masih terjadi sehingga penegakan hukum tetap diperlukan.

Ia berharap temuan satwa langka dapat mendorong penelitian keanekaragaman hayati Indonesia. Namun, keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan utama dalam upaya pencarian dan perlindungan spesies langka.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tembok China Dijaga Makhluk Tersembunyi Sehingga Awet Ratusan Tahun


Most Popular
Features