Krisis Dunia Makin Parah Bikin Harga HP-Laptop Menggila, Sampai Kapan?

Redaksi,  CNBC Indonesia
30 July 2026 16:00
Suasana pedagang di ITC Kuningan di Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)
Foto: Suasana pedagang di ITC Kuningan di Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori global yang sudah mencuat sejak akhir 2026 sudah berdampak besar bagi industri teknologi. Salah satu yang paling dirasakan masyarakat luas adalah kenaikan harga perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, dan konsol game. 

Krisis kelangkaan chip memori global ini dipicu lonjakan permintaan chip untuk infrastruktur teknologi kecerdasan buatan (AI). Pabrikan chip memprioritaskan produksi chip berkapasitas tinggi (HBM) untuk AI, sehingga mengesampingkan chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen. 

Kondisi di pasar saat ini, jauh lebih tinggi permintaan chip memori ketimbang pasokan yang tersedia. Hal ini turut membawa berkah bagi produsen chip memori yang bisnisnya melonjak tajam, termasuk Samsung Electronics.

Samsung Electronics memperkirakan kelangkaan chip akan makin memburuk dan berlanjut hingga tahun 2028. Hal ini disampaikan setelah Samsung mencatatkan lonjakan laba bisnis chip lebih dari 250 kali lipat, menepis kekhawatiran investor bahwa pengeluaran besar-besaran untuk AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar akan melambat dan menahan pertumbuhan.

Saham produsen chip memori terbesar di dunia tersebut sempat melonjak hingga 8% sebelum akhirnya ditutup melemah 1,1%.

"Kelangkaan pasokan pada tahun 2027 diperkirakan akan lebih buruk dibandingkan tahun ini, dan diproyeksikan terus berlanjut hingga 2028," ujar Jaejune Kim, Executive Vice President untuk bisnis memori Samsung, kepada para analis dalam sebuah panggilan konferensi, dikutip dari Reuters, Kamis (30/7/2026).

Ia menyampaikan bahwa Samsung telah menandatangani kesepakatan pasokan jangka panjang dengan lima perusahaan pusat data (data center) terkemuka di dunia, dan hampir menyepakati kerja sama serupa dengan lima perusahaan besar lainnya, tanpa membeberkan nama-nama perusahaan tersebut.

Kim menambahkan bahwa kesepakatan jangka panjang ini akan berlangsung setidaknya selama lima tahun dan mencakup 60% hingga 70% dari total kapasitas produksi Samsung untuk jangka panjang.

Kesepakatan ini juga mencakup pembayaran di awal (upfront payment) serta batas harga minimum (floor pricing) yang bertujuan untuk memitigasi risiko dari investasi modal mereka.

"Pernyataan manajemen dalam panggilan konferensi tersebut lebih baik dari perkiraan, dan merupakan salah satu pemaparan paling menenangkan yang pernah kami dengar setelah sekian lama," kata Ryu Young-ho, analis senior di NH Investment & Securities.

Pandangan optimis Samsung ini hadir setelah penurunan tajam saham-saham chip dalam beberapa bulan terakhir akibat kekhawatiran investor terkait pendanaan pembangunan infrastruktur AI serta persaingan dari Tiongkok yang dapat menekan pendapatan bisnis chip.

Divisi semikonduktor Samsung mencatatkan laba operasional sebesar 89,2 triliun won (Rp1.121 triliun) pada kuartal kedua (Q2) 2026, melambung lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, lonjakan harga chip tersebut justru memukul divisi seluler Samsung, yang melaporkan kerugian sebesar 700 miliar won (Rp8,7 triliun). Angka itu menjadi kuartal pertama bagi divisi tersebut mengalami kerugian (zona merah).

"Chip yang memberikan keuntungan besar di satu sisi kini justru merugikan sisi lainnya, membuat grup Samsung kini semakin rentan terhadap dinamika harga memori serta daya tahan permintaan dari penyedia layanan skala besar (hyperscaler)," ujar Josh Gilbert, seorang analis di eToro.

Pertumbuhan Pendapatan HBM Melonjak

Laba Q2 2026 ini melebihi gabungan pendapatan Samsung selama tiga tahun terakhir, sekaligus menandai pembalikan arah (turnaround) yang tajam saat mereka berlomba mengejar ketertinggalan dari pesaing sesama asal Korea, SK Hynix, dalam memasok chip HBM yang digunakan pada prosesor AI.

Samsung, yang memasok HBM untuk Nvidia dan Advanced Micro Devices (AMD), memperkirakan pendapatan HBM4 akan melonjak lebih dari tiga kali lipat pada kuartal ketiga. Pihaknya menambahkan bahwa hal ini akan membantu menyelaraskan pangsa pasar HBM milik mereka dengan pangsa pasar chip Dynamic Random-Access Memory (DRAM) secara keseluruhan pada paruh kedua tahun ini.

Samsung menyatakan bisnis foundry (pabrik pembuat chip) mereka, yang bersaing dengan TSMC dan Intel, diperkirakan akan berbalik pulih dalam waktu dekat seiring dengan meningkatnya tingkat utilisasi pabrik dan harga chip.

Perusahaan juga menegaskan tetap berada di jalur yang sesuai untuk memulai operasi pabrik fabrikasi di Taylor, Texas, tahun ini, serta berencana memulai peletakan batu pertama (breakground) untuk pabrik kedua, yang ditargetkan dapat memulai produksi massal pada tahun 2030.

Samsung melaporkan laba operasional sebesar 89,5 triliun won (Rp1.125 triliun) untuk periode April hingga Juni, sejalan dengan estimasi awal sebesar 89,4 triliun won dan melonjak drastis dari 4,68 triliun won pada tahun sebelumnya.

Pendapatan perusahaan asal Korea Selatan tersebut naik 130% menjadi 171,5 triliun won pada kuartal ini dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, pesaing lokalnya, SK Hynix, pada Rabu (29/7) melaporkan kinerja kuartalan yang sangat kuat tetapi masih sedikit di bawah ekspektasi tinggi para investor. SK Hynix mengindikasikan rencana untuk meningkatkan belanja modal tahun ini sekitar 50% demi memenuhi melonjaknya permintaan AI.

CFO Samsung, Park Soon-cheol, dalam panggilan konferensi tersebut menyatakan bahwa Samsung tidak mempertimbangkan untuk menerbitkan American Depositary Receipts (ADR) menyusul debut SK Hynix di pasar AS awal bulan ini. Ia menjelaskan bahwa Samsung hanya melihat sedikit kebutuhan untuk menggalang dana baru, mengingat arus kas perusahaan yang stabil dari portofolio bisnisnya yang terdiversifikasi.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Dalam Bahaya, Korea Kasih Peringatan Petaka Baru


Most Popular
Features