Ternyata Ini Penyebab IHSG Melesat 1% Lebih
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan Kamis (30/7/2026), di tengah sikap wait and see pelaku pasar merespons sederet agenda penting ekonomi global pekan ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.10 WIB, IHSG berada di level 6.158,56 atau naik 1,1% dari penutupan perdagangan sebelumnya di 6.091,38. Pagi ini IHSG bergerak di rentang 6.106 hingga 6.168.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp 4,38 triliun dengan volume perdagangan mencapai 9,82 miliar saham dalam 608 ribu kali transaksi. Sebanyak 471 saham menguat, 152 saham melemah, sementara 153 saham bergerak stagnan, menunjukkan tekanan jual mulai berhenti pada awal sesi hari ini.
Adapun saham yang paling ramai ditransaksikan hari ini termasuk TPIA, BBCA, BBRI, BUMI dan BMRI.
Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat, dengan pelemahan hanya dibukukan oleh sektor utilitas dan kesehatan. Adapun sektor barang baku, konsumer dan finansial tercatat menguat paling tajam hari ini.
Secara spesifik, emiten blue chip tercatat menjadi pendorong utama kinerja IHSG. Saham Bank Central Asia (BBCA), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Mandiri (BMRI), Amman Mineral (AMMN) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi penopang kinerja IHSGÂ pagi ini.
Penguatan signifikan hari ini terjadi setelah IHSGÂ merah selama 6 hari perdagangan beruntun. Penguatan IHSGÂ juga terjadi merespons bursa Asia yang mulai pulih, setelah sebelumnya indeks acuan saham Korea Selatan (KOSPI) dan Jepang (Nikkei 225) anjlok imbas aksi jual di saham-saham teknologi.
Pasar keuangan Indonesia dan global sejatinya dihadapkan pada tekanan berat akibat kombinasi sentimen negatif geopolitik, arah kebijakan bank sentral yang agresif, serta lonjakan harga komoditas energi.
Konflik di Timur Tengah mengalami eskalasi tajam setelah kapal tanker gas AS dihantam drone di Mesir, disusul aksi saling serang rudal antara Iran, militer AS, dan Arab Saudi. Situasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global yang serius.
Sebagai dampak langsung dari memanasnya perang, harga minyak mentah melonjak signifikan-minyak Brent terbang 7,9% ke level US$ 90,74 per barel dan WTI melonjak 6,56% ke US$ 84,46 per barel-yang berisiko memicu gelombang inflasi baru.
Dari Amerika Serikat, The Fed memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,50-3,75%, namun diiringi sinyal hawkish yang kuat serta perbedaan suara pejabat terluas sejak 2016. Pasar juga menantikan rilis data inflasi PCE dan pertumbuhan ekonomi kuartal II AS yang diproyeksikan tetap kuat, memperkuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Sementara itu, kawasan Eropa turut menjadi fokus dengan digelarnya rapat Bank of England (BoE) serta rilis data PDB dan inflasi kawasan euro. Teknis kebijakan suku bunga global yang ketat ini memperkuat sentimen risk-off di pasar internasional.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, dalam negeri diwarnai oleh pembukaan pameran otomotif GIIAS 2026 di ICE BSD. Ajang ini diharapkan mampu mendongkrak transaksi, aktivitas manufaktur, serta menopang konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi domestik pada semester II 2026.
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Kamis (30/7/2026), seiring sikap investor yang mencermati keputusan suku bunga The Fed dan beragamnya laporan keuangan emiten teknologi raksasa AS. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,25%, Topix turun 0,59%, Kosdaq terkoreksi 0,73%, dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,26%, sementara Kospi Korea Selatan justru menguat 0,89% usai anjlok sehari sebelumnya. Sentimen pasar turut dibayangi lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang naik 10 basis poin ke atas level 5,2%-tertinggi sejak 2007-reaksi atas keputusan The Fed yang menahan suku bunga dengan nada hawkish.
Kinerja emiten teknologi AS menunjukkan hasil yang kontras akibat perbedaan strategi investasi kecerdasan buatan (AI). Saham Meta Platforms anjlok 7% setelah merilis proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari ekspektasi dan terbebani tingginya biaya investasi AI, sedangkan Microsoft melonjak 8% didorong oleh pertumbuhan kuat pada bisnis komputasi awan Azure. Perbedaan ini mencerminkan bagaimana efisiensi investasi AI kini menjadi penentu utama kepercayaan investor terhadap profitabilitas perusahaan teknologi.
Ke depan, fokus pelaku pasar global tertuju pada sejumlah rilis data makroekonomi penting AS, termasuk klaim pengangguran mingguan, estimasi awal PDB riil kuartal II, serta data inflasi PCE Juni yang diproyeksikan tumbuh 3,7% secara tahunan. Selain itu, kelanjutan musim laporan keuangan masih dinantikan dengan rilis kinerja dari Bristol-Myers Squibb, Amazon, Apple, dan Coinbase.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]