Amerika Mau Pasang Cermin Tutup Langit, Ilmuwan Takut Bintang Hilang

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Senin, 20/07/2026 20:20 WIB
Foto: Seorang astronot mengabadikan momen aurora berkilauan dari luar angkasa yang dibagikan pada sosial media X pribadinya. (X/@JonnyKimUSA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Startup asal California, Reflect Orbital, selangkah lebih dekat mewujudkan ambisinya menerangi malam hari dengan cahaya Matahari dari luar angkasa. Perusahaan tersebut baru saja mengantongi izin dari Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) untuk meluncurkan satelit demonstrasi pertamanya.

Satelit bernama Eärendil-1 itu akan membawa cermin reflektif berukuran sekitar 18 meter yang berfungsi memantulkan cahaya Matahari ke permukaan Bumi. Peluncurannya ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini.

Eärendil-1 hanyalah awal dari proyek yang lebih besar lagi ke depannya. Reflect Orbital menargetkan mengoperasikan sedikitnya 50.000 satelit cermin di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) pada 2035. Jaringan satelit tersebut nantinya akan memantulkan sinar Matahari ke berbagai pelanggan di Bumi.


"Kami berterima kasih kepada FCC yang telah mengakui pentingnya menguji teknologi baru di luar angkasa," kata Pendiri sekaligus CEO Reflect Orbital, Ben Nowack, dikutip dari Space, Rabu (15/7/2026).

"Izin ini merupakan langkah pertama untuk menguji secara menyeluruh efektivitas teknologi kami serta sistem pengamanan yang telah kami kembangkan. Kami antusias menunjukkan cara kerja teknologi ini dan memperkenalkan teknologi bersih yang sangat dibutuhkan dunia," lanjutnya.

Reflect Orbital mengklaim teknologi tersebut dapat dimanfaatkan di berbagai sektor. Dalam situs resminya, perusahaan menggambarkan berbagai kemungkinan jika cahaya Matahari tidak lagi dibatasi oleh lokasi geografis maupun waktu.

"Bayangkan berbagai kemungkinan ketika sinar Matahari tidak lagi dibatasi oleh letak geografis atau waktu. Tim pencarian dan penyelamatan dapat menemukan orang hilang hanya dalam hitungan menit. Kota memiliki jalan yang lebih aman dan terang tanpa emisi karbon. Proyek konstruksi bisa selesai dua kali lebih cepat karena pekerja dapat bekerja dengan aman sepanjang malam," tulis perusahaan.

Selain itu, konstelasi satelit cermin tersebut juga diklaim mampu meningkatkan produktivitas pembangkit listrik tenaga surya di Bumi. Dengan pasokan cahaya tambahan, panel surya dapat menghasilkan lebih banyak listrik sehingga ketergantungan terhadap sumber energi yang mencemari lingkungan, seperti bahan bakar fosil, dapat dikurangi.

Bikin Ilmuwan Khawatir

Meski demikian, rencana Reflect Orbital menuai kekhawatiran dari kalangan ilmuwan. Konstelasi satelit dalam jumlah besar memang telah lama menjadi perdebatan karena dinilai mengubah tampilan langit malam dan berpotensi mencemari atmosfer saat ribuan satelit memasuki kembali atmosfer Bumi.

Khusus untuk proyek Reflect Orbital, para peneliti juga mengkhawatirkan munculnya jenis baru polusi cahaya yang dapat mengganggu manusia maupun ekosistem.

"Sinar yang dipantulkan satelit-satelit ini sangat terang, empat kali lebih terang dibandingkan cahaya bulan purnama, dan mereka akan mengoperasikan banyak satelit dalam satu formasi," ujar astronom dari Silverado Hills Observatory di Tucson, Arizona sekaligus konsultan Dark Sky Consulting, John Barentine.

"Hal itu akan berdampak pada satwa liar di area yang terkena pencahayaan langsung, dan juga pada wilayah di sekitarnya melalui penyebaran cahaya di atmosfer," tambahnya.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Reflect Orbital menegaskan telah merancang berbagai sistem untuk meminimalkan dampak negatif teknologi itu.

"Kami merancang sistem keamanan dengan tiga cara. Pertama, cahaya dibatasi hanya pada area tertentu. Kedua, cahaya dapat dimatikan dengan cepat kapan saja sehingga tidak mencapai Bumi. Dan ketiga, kami dapat menghindari area sensitif seperti observatorium penelitian atau habitat yang dilindungi," tulis perusahaan.

Mereka juga memastikan intensitas cahaya yang dipantulkan tidak cukup kuat untuk memicu kebakaran atau membahayakan mata, bahkan ketika diamati menggunakan teleskop.

Menurut perusahaan, cahaya tersebut juga tidak dapat dikonsentrasikan melebihi tingkat radiasi alami maksimum dari sinar Matahari.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ada Kesenjangan, Infrastruktur Internet RI Siap Hadapi Era AI?