Saingan Starlink Muncul di Indonesia, Begini Bocorannya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
09 July 2026 09:00
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam acara Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia, di Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Novina Putri Bestari)
Foto: Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam acara Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia, di Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Novina Putri Bestari)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah operator satelit Indonesia tengah mengembangkan satelit Low Earth Orbit (LEO). Kini, para perusahaan tengah berproses mengajukan orbit dan frekuensi satelit ke International Telecommunication Union (ITU).

"Indonesia memang sedang dalam proses kita. Ada permohonan dari operator satelit kita, dan kita sudah proses itu ke ITU," kata Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adis Alifiawan, usai peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia, Rabu (8/7/2026).

Dia menjelaskan perusahaan-perusahaan yang tengah berproses itu adalah PSN dan Telkomsat.

Meski begitu, proses pengembangan tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Bukan hanya soal kesiapan teknologi dan pendanaan, ada pula koordinasi internasional yang perlu dilakukan.

Setidaknya butuh waktu 7 tahun berdasarkan ketentuan ITU untuk regulatory periode, sejak pengajuan hingga satelit diluncurkan. Jadi belum akan ada operator yang meluncurkannya dalam waktu dekat.

"Seharusnya kalau timing mereka ya. Kalau kita kan melihatnya dalam proses ya, proses periodenya itu memang sejak masuk ke ITU sampai dengan harus meluncur 7 tahun," ucapnya.

Sementara itu, dia menjelaskan Komdigi sendiri memiliki peranan untuk memfasilitas pengajuan slot orbit dan spektrum frekuensi satelit ke ITU.

"Jadi memang peran kami ini membantu proses itu, memfasilitasinya ke ITU internasional. Jadi bagaimana membangunnya, berapa banyak, itu memang lebih pada kemampuan dari operator itu sendiri," jelas Adis.

Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan layanan satelit LEO sering dikaitkan dengan Starlink yang dimiliki Elon Musk. Sebenarnya, LEO adalah orbit satelit yang berada di sekitar 300-2.000 kilometer di atas permukaan Bumi atau orbit rendah Bumi.

"Itu kan bicara orbit rendah. Teman-teman LAPAN itu udah punya lho. Jadi teman-teman BRIN melalui satelit LAPAN itu posisinya memang di LEO," jelasnya.

Satelit LAPAN yang berada di orbit LEO yakni LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN A-3. Peruntukannya sendiri bukan untuk penyedia layanan internet, melainkan sebagai analisa wilayah hingga pemantauan sumber daya alam.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tagihan Starlink Bengkak Sampai Rp 27 Juta, Pelanggan Merasa Dirampok


Most Popular
Features