Gempa Besar Terus-terusan, Pulau Baru Lahir di Atas Papua

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
08 July 2026 11:25
Ilustrasi laut. (Dok. Freepik)
Foto: Laut. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung api bawah laut di Laut Bismarck, tepat di utara Papua Nugini, sebelah Papua, berpotensi melahirkan sebuah pulau baru. Citra satelit yang dikumpulkan sejak awal Mei menunjukkan letusan gunung api tersebut terus bergerak menuju permukaan laut.

Letusan pertama kali terdeteksi setelah serangkaian gempa bumi mengguncang dasar Laut Bismarck bagian tengah. Sejak saat itu, sejumlah satelit memantau aktivitas vulkanik dari luar angkasa dan merekam berbagai fenomena, mulai dari semburan uap raksasa, rakit batu apung yang mengapung di laut, hingga titik panas atau thermal hotspot berukuran besar.

Bagi para ilmuwan, fenomena ini menjadi temuan yang menarik sekaligus menantang. Pasalnya, gunung api tersebut berada di kawasan dasar laut yang masih minim pemetaan sehingga banyak informasi dasar mengenai gunung api itu belum diketahui. Meski demikian, aliran data satelit membantu para peneliti menyusun gambaran mengenai aktivitas yang sedang berlangsung di bawah laut.

Tanda-tanda awal aktivitas vulkanik muncul pada 8 Mei ketika seismometer merekam serangkaian gempa bumi di bawah Laut Bismarck. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kemudian mengonfirmasi melalui pengamatan satelit bahwa letusan gunung api bawah laut memang sedang berlangsung.

Penemuan tersebut juga memperlihatkan masih minimnya pemahaman ilmuwan terhadap kawasan dasar laut itu. Hingga kini belum tersedia peta rinci yang dapat menunjukkan secara pasti gunung api mana yang menjadi sumber letusan.

Wilayah tersebut dipenuhi berbagai struktur geologi seperti patahan, punggungan vulkanik, retakan, tebing bawah laut, hingga batas lempeng tektonik aktif yang membuat kondisi geologinya sangat kompleks.

Berdasarkan bukti yang ada, lokasi yang paling mungkin menjadi sumber letusan adalah Titan Ridge, yakni kawasan pertemuan dua lempeng tektonik bawah laut. Namun, ilmuwan masih belum mengetahui lubang vulkanik (vent) mana yang aktif, seberapa dalam posisinya sebelum letusan dimulai, maupun kapan terakhir kali gunung api itu meletus.

Seiring berjalannya waktu, citra satelit menunjukkan letusan semakin mendekati permukaan laut.

Pada 9 Mei, satelit Aqua dan Terra milik NASA merekam semburan uap putih besar yang mengepul dari permukaan laut. Satelit lainnya memperlihatkan kolom uap tersebut menjulang hingga beberapa kilometer ke atmosfer, sementara satelit PACE milik NASA mendeteksi perubahan warna air laut di sekitar lokasi letusan.

Kemudian pada 10 hingga 11 Mei, citra beresolusi tinggi dari satelit Sentinel-2 milik European Space Agency (ESA) dan Landsat 9 milik NASA/USGS memperlihatkan aktivitas vulkanik sudah berada jauh lebih dekat dengan permukaan air.

Petunjuk penting lainnya muncul pada 12 Mei ketika satelit Suomi NPP mendeteksi anomali panas yang mencakup area sekitar 7 kilometer persegi.

Vulkanolog dari Michigan Technological University, Simon Carn, mengatakan sebaran panas yang luas mengindikasikan material vulkanik bersuhu tinggi dalam jumlah besar kini berada sangat dekat dengan permukaan laut.

Ia juga menyebut lubang letusan aktif kemungkinan jauh lebih dangkal dibandingkan perkiraan berdasarkan peta dasar laut yang tersedia sebelumnya.

Salah satu fenomena paling mencolok dari letusan ini adalah terbentuknya rakit batu apung berukuran besar yang hanyut di lautan. Batu apung merupakan batuan vulkanik ringan yang terbentuk saat letusan dan mampu mengapung selama waktu yang lama, bahkan dapat terbawa arus laut hingga ratusan kilometer.

Kepala ilmuwan di NASA Goddard Space Flight Center, Jim Garvin, mengatakan para peneliti kini menunggu apakah letusan tersebut akan melahirkan pulau baru. Menurutnya, proses semacam ini sangat jarang dapat diamati secara utuh menggunakan satelit modern.

"Kami sekarang sangat antusias menunggu apakah sebuah pulau baru akan segera lahir, sesuatu yang sangat jarang bisa kami amati secara langsung melalui satelit saat prosesnya berlangsung," ujar Garvin, dikutip dari Daily Galaxy, Rabu (8/7/2026).

Meski daratan baru nantinya berhasil muncul ke permukaan laut, belum ada jaminan pulau tersebut akan bertahan lama. Letusan dapat membentuk tuff cone, yaitu struktur yang terbentuk ketika magma bersentuhan dengan air laut. Namun, daratan baru itu juga berpotensi runtuh atau cepat terkikis oleh erosi.

Sejauh ini letusan masih tergolong relatif lemah. Carn menjelaskan kondisi tersebut kemungkinan berkaitan dengan lokasi gunung api yang berada di sepanjang punggungan vulkanik, tempat patahan transform bertemu dengan pusat penyebaran back-arc.

"Zona penyebaran berkaitan dengan aktivitas yang tidak terlalu eksplosif, sementara letusan paling eksplosif biasanya terjadi di zona subduksi dan melibatkan gunung api strato berukuran besar," kata Carn.

Hingga kini belum ada yang mengetahui berapa lama aktivitas vulkanik tersebut akan berlangsung. Sebagai perbandingan, letusan di punggungan yang sama pada 1972 hanya berlangsung selama empat hari. Sementara itu, letusan lain di dekat Selat St. Andrew, sekitar 100 kilometer dari lokasi saat ini, berlangsung hampir empat tahun setelah dimulai pada 1957.

Apabila pulau baru benar-benar muncul, para ilmuwan berharap dapat mempelajari bagaimana tumbuhan, hewan, dan berbagai bentuk kehidupan lainnya secara bertahap mulai menghuni daratan tersebut. Mereka juga akan mengamati bagaimana hujan, erosi, dan proses pelapukan kimia membentuk evolusi pulau baru itu dari waktu ke waktu.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Megatsunami Hantam Pasifik, NASA Ungkap Fakta Mengejutkan


Most Popular
Features