Saturnus dan Bulan Malam Ini 'Dempet', Terlihat Jelas di Langit RI

Redaksi,  CNBC Indonesia
07 July 2026 18:00
Saturnus (11/09/2017). (NASA / JPL-Caltech / Institut Sains Luar Angkasa / Selebaran via REUTERS)
Foto: Saturnus (11/09/2017). (NASA / JPL-Caltech / Institut Sains Luar Angkasa / Selebaran via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Indonesia dini hari besok, Rabu (8/7/2026) bisa menyaksikan langsung peristiwa astronomi Saturnus dan Bulan sejajar. Fenomena ini bisa diamati mulai tengah malam saat Bulan terbit. 

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Izatul Hafizah menjelaskan bahwa peristiwa astronomi ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca cerah dan langit bebas dari tutupan awan.

Ia menjelaskan bahwa dalam astronomi, konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak berdekatan jika diamati dari Bumi. Posisi tersebut hanyalah efek perspektif karena kedua benda memiliki bujur ekliptika yang hampir sama.

"Walaupun terlihat berdekatan di langit, Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang sangat besar. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer. Jadi, konjungsi hanya merupakan efek sudut pandang pengamat di Bumi," jelas Izatul.

Konjungsi, tambahnya, merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah dan tidak berkaitan dengan perubahan cuaca, gempa bumi, maupun dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

"Cuaca dipengaruhi oleh dinamika atmosfer seperti pemanasan Matahari, sirkulasi udara, kandungan uap air, serta fenomena iklim. Sementara itu, gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik. Posisi tampak Saturnus dan Bulan di langit tidak memengaruhi kedua proses tersebut," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa masyarakat tidak memerlukan teleskop untuk menikmati fenomena tersebut. Bulan akan tampak sebagai objek yang sangat terang, sedangkan Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan.

Namun, penggunaan binokular atau teleskop akan memberikan pengalaman observasi yang lebih baik karena cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.

"Fenomena ini bisa diamati sejak sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan mulai terbit, kemudian Saturnus menyusul sekitar pukul 23.45 WIB. Keduanya akan terlihat berdekatan sepanjang dini hari hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah keduanya sudah cukup tinggi di langit, sekitar pukul 01.00-05.00 WIB," kata dia.

Izatul menjelaskan bahwa konjungsi Saturnus dan Bulan terjadi sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika.

Di sisi lain, Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari sehingga secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rekor Baru Manusia Sentuh Titik Terjauh Meninggalkan Bumi


Most Popular
Features