Kejayaan Nvidia Mulai Runtuh, Mendadak Muncul Raja Baru dari Asia

Redaksi,  CNBC Indonesia
08 July 2026 17:00
Kolase logo Samsung dan NVidia. (Reuters)
Foto: Kolase logo Samsung dan NVidia. (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa chip Nvidia asal Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perusahaan yang paling diuntungkan di era teknologi kecerdasan buatan (AI). Sejak popularitas AI meledak pada 2022 silam, Nvidia mendadak jadi 'primadona' Wall Street yang pendapatannya terus mencetak rekor dari kuartal-ke-kuartal.

Bahkan, Nvidia berhasil mengamankan posisi sebagai perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar sebesar US$4.769 triliun. Kendati demikian, Nvidia mulai menghadapi tekanan saat konflik geopolitik antara AS dan China memanas.

Kebijakan protektif AS yang melarang penjualan chip AI tercanggih ke China telah menggerus pangsa pasar Nvidia di negara tersebut hingga ke angka nol. Padahal, China merupakan salah satu pasar penting yang berkontribusi besar terhadap pendapatan Nvidia.

Ketika pemerintahan Trump mulai melunak dan mengizinkan chip AI H200 dijual ke China, giliran negara kekuasaan Xi Jinping yang 'jual mahal' dan belum secara formal mengizinkan masuknya chip tersebut. Nasib Nvidia di China bisa dibilang masih luntang-lantung.

Tak cuma tekanan geopolitik, kekhawatiran terkait 'gelembung' AI yang membuat investor khawatir terkait masa depan AI yang mahal, kembali mengguncang bisnis Nvidia. Selama 30 hari terakhir, saham Nvidia mencatat tren pelemahan sebesar 5,61%, meskipun sejak awal tahun masih positif 8,08%.


Samsung Jadi Raja Baru

Di tengah gejolak yang dihadapi Nvidia, tiba-tiba muncul 'raja' baru dari Korea Selatan, yakni Samsung Electronics. Ledakan AI memicu krisis kelangkaan memori global karena tingginya permintaan untuk infrastruktur data center AI.

Fenomena ini membawa berkah bagi Samsung sebagai produsen chip memori terbesar di dunia. Pada Selasa (7/7) kemarin, Samsung mengumumkan panduan baru untuk laba awalnya di kuartal-II (Q2) 2026.

Samsung optimistis akan mencatat laba operasional senilai 89,4 triliun won (US$58,5 miliar/Rp1.053 triliun) untuk periode April-Juni 2026. Pencapaian itu naik lebih dari 18 kali lipat dibandingkan laba 4,7 triliun won (Rp56 triliun) pada periode yang sama tahun 2025.

Berdasarkan estimasi tersebut, Samsung telah menggeser Nvidia sebagai perusahaan paling profitable di dunia berdasarkan laba operasional kuartalan, dikutip dari Sammobile, Rabu (8/7/2026).

Hingga saat ini, Nvidia memegang posisi sebagai perusahaan dengan laba operasional terbesar, yakni US$58,3 miliar (Rp1.049 triliun) pada Q1 2026. Raja chip AI tersebut belum mengumumkan kinerja Q2 2026. Estimasi laba operasional Q2 2026 Samsung telah mengalahkan laporan kuartalan terakhir yang diumumkan Nvidia.

Kinerja moncer Samsung utamanya didorong kenaikan harga chip memori gara-gara kelangkaan di pasar akibat ledakan AI. Samsung merupakan salah satu dari tiga manufaktur chip memori terbesar di dunia, bersama dengan SK Hynix asal Korea Selatan dan Micron asal AS.

Seiring permintaan yang terus melampaui pasokan, harga chipp memori telah melonjak tajam selama setahun terakhir, mendorong profitabilitas Samsung ke rekor tertinggi. Perusahaan diperkirakan akan memaparkan perincian kinerja keuangannya saat merilis laporan laba lengkap untuk kuartal kedua (Q2) tahun 2026 pada akhir bulan ini.

Dilaporkan pula bahwa laba Samsung Electronics sepanjang 2026 bisa melampaui angka US$217 miliar. Jumlah ini akan menjadikan laba tahun ini lebih besar daripada akumulasi laba perusahaan selama 40 tahun terakhir jika digabungkan.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Untung Samsung Lompat 8 Kali Lipat Tapi Bukan dari Jualan HP


Most Popular
Features