Dikira Kanker Ternyata Cacing, Ahli Ungkap Masuk ke Otak Lewat Sini
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejala sakit kepala hebat disertai perubahan perilaku sering kali membuat dokter menduga adanya penyakit serius. Dalam sebuah kasus medis yang dilaporkan baru-baru ini, seorang pria di Spanyol sempat diduga mengidap kanker yang sudah menyebar ke otak. Hasil pemeriksaan lebih lanjut justru menemukan fakta mengejutkan. Penyebab gangguan itu bukanlah tumor, melainkan larva cacing pita yang bersarang di dalam jaringan otak.
Kasus ini melibatkan pria berusia 60 tahun. Ia datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan sakit kepala yang muncul selama dua minggu dan terasa makin parah. Selain itu, terjadi perubahan halus pada perilaku dan gerakan tubuhnya menjadi lebih lambat. Pemeriksaan awal menunjukkan kadar antibodi IgE dalam darah meningkat. Kondisi ini sering dikaitkan dengan reaksi alergi, gangguan kekebalan tubuh, atau infeksi parasit.
Pemindaian awal menggunakan CT scan menemukan banyak jaringan abnormal disertai pembengkakan di seluruh bagian otak. Temuan ini membuat tim medis menduga kuat adanya kanker yang sudah menyebar. Pria itu tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri dan tidak memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh. Dugaan awal ini membuat dokter melakukan serangkaian tes lengkap untuk mendeteksi sumber kanker. Pemeriksaan meliputi pemindaian seluruh tubuh, kolonoskopi, hingga pemindaian PET. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda pertumbuhan sel ganas.
Tim medis kemudian melakukan pemindaian lebih terperinci dengan metode MRI. Hasilnya memperlihatkan gambaran yang sangat jelas. Bukan tumor yang terlihat, melainkan kantung-kantung berisi larva cacing pita lengkap dengan kepala cacingnya yang disebut skoleks. Diagnosis akhirnya ditegakkan sebagai neurosisistiserkosis. Kondisi ini adalah ketika larva cacing pita Taenia solium masuk dan berkembang di sistem saraf pusat.
Laporan kasus ini dimuat dalam jurnal Emerging Infectious Diseases dan diberitakan oleh situs kesehatan Ars Technica pada Juni 2026.
Cacing pita babi atau Taenia solium menular melalui dua jalur utama. Infeksi usus terjadi saat daging babi yang mengandung larva cacing dimakan dalam keadaan kurang matang. Adapun, infeksi yang menjangkau otak terjadi saat telur cacing masuk ke dalam tubuh. Jalur penularan ini terjadi melalui makanan, air, atau permukaan yang terkontaminasi kotoran orang yang sudah terinfeksi cacing dewasa.
Dalam kasus ini, asal infeksi sempat membingungkan. Wilayah Spanyol bukan daerah endemik cacing pita. Namun, penelusuran riwayat pekerjaan menunjukkan bahwa pria itu bekerja sebagai tukang bangunan selama 10 tahun. Ia sering berinteraksi dan berbagi tempat makan serta fasilitas sanitasi dengan rekan kerja yang berasal dari daerah tempat cacing ini banyak ditemukan. Diduga penularan terjadi secara tidak langsung melalui kebersihan lingkungan dan konsumsi makanan bersama.
Neurosisistiserkosis dapat menimbulkan komplikasi serius. Gejala yang muncul meliputi sakit kepala berkepanjangan, kejang, gangguan kesadaran, penurunan daya ingat, hingga risiko stroke jika menekan pembuluh darah otak. Tingkat keparahan tergantung pada jumlah dan letak larva di dalam jaringan otak.
Setelah diagnosis ditegakkan, pasien mendapatkan obat ant parasit khusus. Kondisinya membaik secara bertahap tanpa perlu prosedur operasi. Dokter menekankan pentingnya pemeriksaan yang lebih mendalam. Dugaan awal kanker bisa membuat pasien menjalani prosedur medis yang tidak perlu dan menunda penanganan yang tepat jika tidak diperiksa secara cermat.
Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet menjadi kunci utama. Memasak daging hingga matang sempurna, menjaga kebersihan sumber air, serta memastikan sanitasi lingkungan berjalan baik juga sangat efektif memutus rantai penularan cacing pita.
(dem/dem) Add
source on Google