Amerika Mau Bangun SPBU di Luar Angkasa, Isinya Bukan Bensin
Jakarta, CNBC Indonesia - NASA tengah menyiapkan teknologi baru yang bisa menjadi fondasi perjalanan manusia ke Bulan hingga Mars di masa depan.
Lewat misi satelit bernama LOXSAT, NASA akan menguji sistem penyimpanan dan pemindahan bahan bakar kriogenik super dingin di luar angkasa.
Teknologi tersebut dinilai sangat penting untuk mendukung misi luar angkasa jarak jauh, terutama program Artemis yang menargetkan manusia kembali ke Bulan sebelum akhirnya menuju Mars.
Dalam pernyataannya, NASA menyebut teknologi depot bahan bakar di orbit nantinya dapat berfungsi layaknya "SPBU di luar angkasa". Teknologi itu memungkinkan pesawat antariksa mengisi ulang bahan bakar langsung di orbit tanpa harus kembali ke Bumi.
Mengutip laman Space, Kamis (21/5/2026), misi LOXSAT dijadwalkan meluncur ke orbit rendah Bumi pada musim panas tahun ini menggunakan roket Electron milik Rocket Lab dari Selandia Baru paling cepat 17 Juli 2026. Satelit ini akan menggunakan platform Photon dan menjalani misi selama sembilan bulan.
Selama berada di orbit, LOXSAT akan menguji 11 komponen berbeda untuk mengelola bahan bakar kriogenik di kondisi mikrogravitasi. Pengelolaan bahan bakar jenis ini sangat rumit karena harus dijaga pada suhu ekstrem agar tidak menguap.
Kemampuan menyimpan dan memindahkan bahan bakar kriogenik di luar angkasa menjadi kunci utama bagi misi eksplorasi jarak jauh. Tanpa teknologi tersebut, wahana antariksa akan kesulitan melakukan perjalanan panjang karena keterbatasan kapasitas bahan bakar saat peluncuran dari Bumi.
NASA menggandeng Eta Space dalam pengembangan proyek ini. Teknologi yang diuji LOXSAT nantinya diharapkan dapat mendukung pembangunan depot pengisian bahan bakar di orbit untuk berbagai misi luar angkasa masa depan.
Teknologi ini juga menjadi bagian penting dalam program Artemis. Dua wahana pendarat Bulan yang dipilih NASA, yakni Starship milik SpaceX dan Blue Moon milik Blue Origin, sama-sama menggunakan bahan bakar kriogenik.
Starship memakai kombinasi oksigen cair dan metana cair, sedangkan Blue Moon menggunakan oksigen cair dan hidrogen cair. Kedua sistem tersebut membutuhkan pendinginan kriogenik terus-menerus agar bahan bakar tetap dalam bentuk cair.
Namun hingga kini, belum ada perusahaan yang berhasil membuktikan kemampuan penyimpanan jangka panjang maupun transfer bahan bakar kriogenik antar wahana di luar angkasa. Karena itu, LOXSAT berpotensi menjadi misi pertama yang membuka jalan bagi teknologi tersebut.
Di saat bersamaan, SpaceX dan Blue Origin juga terus mempercepat pengembangan wahana pendarat Bulan mereka. SpaceX dijadwalkan meluncurkan uji terbang Starship Flight 12 pekan ini. Peluncuran tersebut menjadi debut Starship Versi 3 yang nantinya dirancang memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di orbit.
Sementara itu, Blue Origin tengah menyelesaikan tahap akhir pengujian Blue Moon MK1 di fasilitas dekat Kennedy Space Center, Florida. Meski demikian, pengembangan roket New Glenn milik Blue Origin masih terkendala investigasi setelah kegagalan misi sebelumnya.
NASA sendiri menargetkan misi Artemis 3 berlangsung pada akhir 2027. Dalam misi tersebut, empat astronaut akan diterbangkan ke orbit rendah Bumi untuk melakukan simulasi manuver docking antara kapsul Orion dan wahana pendarat Bulan.
Jika berjalan sesuai rencana, misi ini akan memberikan data penting bagi ilmuwan dan insinyur yang dapat membantu SpaceX dan Blue Origin mengembangkan teknologi pengelolaan bahan bakar kriogenik di mikrogravitasi serta membuka jalan bagi stasiun pengisian bahan bakar di orbit untuk mendukung misi ke Bulan, Mars, dan tujuan luar angkasa lainnya.
(dem/dem) Add
source on Google