Bulan Mulai Retak dan Terbelah, Rencana Manusia Bisa Berantakan

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
03 February 2026 08:15
In this image taken by camera aboard Chang'e 5 spacecraft provided by China National Space Administration, its shadow is reflected on the surface of the moon during its landing process on Tuesday, Dec. 1, 2020. The Chinese spacecraft landed on the moon Tuesday to bring back lunar rocks to Earth for the first time since the 1970s, the government announced. (China National Space Administration via AP)
Foto: Dalam gambar yang diambil dengan kamera di atas pesawat ruang angkasa Chang'e 5 menunjukkan bayangan terpantul di permukaan bulan selama proses pendaratannya pada Selasa (1/2/2020). (China National Space Administration via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah peneliti mengungkapkan perubahan pada permukaan Bulan. Nampak permukaan satelit Bumi itu memiliki retakan besar.

Studi bertajuk "Paleoseismic activity in the Moon's Taurus-Littrow valley inferred from boulder falls and landslides" menemukan beberapa penyebabnya. Selain tumbukan meteorit, perubahan lanskap juga terjadi akibat aktivitas seismik atau gempa bulan (moonquakes).

Para peneliti menemukan adanya jejak longsoran dan jatuhan besar di lokasi pendaratan misi Apollo 17. Fenomena itu disebutkan karena gempa mengguncang wilayah Taurus-Littrow.

Dari hasil temuan tersebut, peneliti Nicholas Schmerr mengungkapkan Bulan masih hidup secara geologis dan terus berkontraksi.

"Kami tidak memiliki instrumen pengukur guncangan kuat seperti di Bumi untuk mendeteksi aktivitas seismik di Bulan, jadi kami mencari cara lain untuk memperkirakan seberapa besar guncangan yang terjadi, misalnya dari jatuhnya bongkahan batu dan longsoran yang dipicu oleh peristiwa seismik tersebut," ujar Schmerr, dikutip dari Daily Galaxy

Temuan lainnya lagi adalah patahan aktif di permukaan Bulan. Salah satunya adalah Lee-Lincoln Fault yang dikatakan masih bisa memicu gempa di masa kini.

Patahan aktif itu membentang di dekat sejumlah lokasi potensial untuk pendaratan dan pembangunan pangkalan permanen.

Temuan tersebut juga memunculkan kekhawatiran soal rencana eksplorasi jangka panjang di Bulan. Termasuk misi Artemis dari NASA yang membangun pangkalan manusia permanen di sana.

Ilmuwan senior emeritus di Smithsonian Institution, Thomas R. Watters mengatakan perlu memperhitungkan lebih serius untuk menentukan pangkalan baru karena adanya aktivitas patahan aktif tersebut.

"Sebaran global patahan muda seperti Lee-Lincoln dan potensi terbentuknya patahan baru harus dipertimbangkan saat menentukan lokasi pangkalan di Bulan," katanya.

Risiko gempa besar di Bulan memang kecil, namun tak bisa diabaikan. Peluang terjadinya gempa merusak dekat patahan aktif sekitar 1:20 juta per hari, namun bisa meningkat hingga 1:5.500 dengan misi yang berlangsung jangka panjang seperti misi Artemis.

"Risiko bencana memang kecil, tapi bukan nol," ujar Schmerr. "Ketika kita berbicara tentang infrastruktur jangka panjang di Bulan, risiko sekecil apa pun tetap harus diperhitungkan."

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Astronaut Baru NASA Bisa Jadi Orang Pertama Injakkan Kaki di Mars


Most Popular
Features