China Tiba-Tiba 'Meledak', Tanda Krisis Dunia Makin Parah

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 17:30 WIB
Foto: Ilustrasi Chip (Dok: Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori global membawa 'berkah' bagi industri chip di China. Changxin Memory Technologies (CXMT) yang merupakan produsen chip memori kawakan di negara kekuasaan Xi Jinping, mengumbar prediksi ambisius untuk semester-I 2026.

CXMT pada Minggu (17/5) waktu setempat, mengestimasikan pendapatan semester-I 2026 mencapai 110-120 miliar yuan atau setara Rp285-311 triliun). Hal ini dipicu lonjakan harga chip memori, di tengah krisis yang menggila.


Harga chip memori global melonjak drastis, seiring 'ledakan' AI yang membuat permintaan chip berkapasitas tinggi (HBM) membludak. Krisis ini sudah memicu lonjakan harga perangkat elektronik konsumen, hingga investasi yang kian membengkak untuk membangun infrastruktur AI.

Beberapa pihak mendapat 'durian runtuh', utamanya para produsen chip memori. Misalnya Samsung Electronics asal Korea Selatan yang mencatat kapitalisasi pasar di atas US$1 triliun pada Mei 2026.

CXMT mengatakan permintaan DRAM global telah melampaui suplai yang ada, seiring permintaan komputasi yang terus bertumbuh. Para produsen chip dunia juga menyesuaikan kembali lini produksinya.

Hal ini mendorong harga DRAM ke level lebih tinggi sejak semester-II 2025. CXMT mengatakan pendapatan naik tajam seiring dengan peningkatan produksi dan penjualan, serta perbaikan bauran produknya.

Penawaran umum perdana (IPO) CXMT dipantau secara ketat oleh investor asing dan pengamat industri sebagai tolok ukur kemajuan China dalam chip DRAM, yang makin penting di era AI karena memungkinkan transmisi data yang lebih cepat antara prosesor dan memori.

Perusahaan yang berbasis di Hefei ini mengatakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham diperkirakan akan mencapai hingga 57 miliar yuan pada semester pertama.

Pada kuartal pertama, pendapatan CXMT melonjak lebih dari 700% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 50,8 miliar yuan. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar 25 miliar yuan, dibandingkan dengan kerugian bersih sebesar 1,6 miliar yuan pada periode yang sama tahun sebelumnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Telkom Proyeksi Belanja AI Indonesia Rp 100 Triliun di 2030