Hantavirus Sudah Lama Menyebar di RI, Kenali Gejala dan Penularannya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
12 May 2026 18:35
Dalam ilustrasi ini, yang diambil pada 7 Mei 2026, terlihat sebuah tabung reaksi berlabel "Hantavirus positif". (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: Dalam ilustrasi ini, yang diambil pada 7 Mei 2026, terlihat sebuah tabung reaksi berlabel

Jakarta, CNBC Indonesia - Hantavirus jadi perhatian dunia setelah sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius terdampak penyakit tersebut, bahkan menyebabkan 3 orang tewas. Mereka disebut terinfeksi virus Andes, salah satu jenis Hantavirus.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan beberapa fakta soal hantavirus. Salah satunya adalah cara penularannya melalui hewan pengerat khususnya tikur liar, seperti tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, dan mencit liar yang berada di area permukiman, pertanian, maupun hutan.

Sementara Andes sendiri ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus), yang biasanya berada di Patagonia, Argentina dan Chile.

"Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi," jelas Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto dikutip Selasa (12/5/2026).

Hantavirus disebut bisa menyebabkan Hantabirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru berat yang bisa berpotensi menimbulkan gagal napas akut.

Terkait gejala, Ristiyanto menjelaskan awalnya seperti influenza yakni mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, dan gangguan pencernaan. Masalahnya gejalanya tidak spesifik, membuat diagnosis dini terlambat dilakukan.

Mereka yang terinfeksi hantavirus dengan kondisi berat dapat mengalami gangguan pernapasan serius. Jika ini terjadi, maka membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Tingkat kematian karena HPS tergolong cukup tinggi, mencapai 20-35%. Jadi masyarakat perlu waspada akan paparan rodensia dan deteksi dini.

Kasus Hantavirus di Indonesia

Penelitian soal hantavirus di Indonesia telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Ksehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan sejak 1991. Khususnya penelitian telah dilakukan di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Ristiyanto menjelaskan belum pernah ada laporan khusus Andes virus di Indonesia hingga sekarang. Virus yang sama juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, dan silvatik dari hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada 2015-2018.

Namun masyarakat diingatkan untuk tetap waspada. Hal ini mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, dan lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga minggu ke-16 2026. Dari jumlah tersebut 3 orang meninggal dunia.

Dalam periode yang sama, 251 kasus suspek terdeteksi dengan detailnya 225 negatif dan 3 tidak dapat diperiksa.

Kasus tertinggi terjadi pada 2025, dengan 17 kasus. Tahun ini hingga minggu ke-16, ditemukan 5 kasus.

Sebaran hantavirus di tanah air hingga kini adalah Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur (1), Banten (1), Sumatra Barat (1), NTT (1), Sulawesi Utara (1), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Timur (1).

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hantavirus Menyebar di RI Berbeda, Kemenkes Ungkap Variannya


Most Popular
Features