Trump Kasih Proyek Baru Buat Elon Musk Usai Dihujat Satu Dunia

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 14/01/2026 19:00 WIB
Foto: (Tangkapan layar Xelonmusk)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat ribut secara publik di internet pada 2025 lalu, kini Elon Musk dan Presiden AS Donald Trump tampak kembali dekat. Momentum kebersamaan mereka pertama kali pasca berdebat karena kebijakan 'One Big Beautiful Bill Act' tertangkap kamera saat acara peringatan mendiang Charlie Kirk.

Selanjutnya, baru-baru ini Musk mengunggah momen kebersamaan saat makan malam bersama Donald Trump dan Melania Trump di Mar-a-Lago.


Tak berselang berapa lama, kedekatan Musk dan Trump tampak pada proyek baru pemerintah AS yang diberikan untuk chatbot AI Grok milik Musk. Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada awal pekan ini mengatakan Grok akan bergabung dengan tool AI Google dalam mengoperasikan jaringan internal Pentagon.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk menggenjot pengumpulan data militer yang lebih banyak untuk pengembangan teknologi di masa mendatang.

"Dalam waktu dekat kami akan menyematkan model-model AI terbaik di dunia pada semua jaringan yang terklasifikasi maupun yang tidak terklasifikasi di kementerian kami," kata Hegseth dalam pidato di kantor SpaceX di Texas Selatan, dikutip dari NPR, Rabu (14/1/2026).

Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah Grok menjadi sorotan dunia. Layanan milik Musk itu mendapat kritik tajam dari berbagai negara, lantaran memungkinkan oknum-oknum tak bertanggungjawab menciptakan konten seksual yang mengobjektifikasi perempuan dan anak-anak.

Bahkan, beberapa negara seperti Indonesia dan Malaysia telah memblokir sementara akses Grok di platform X. Selain itu, Inggris dilaporkan akan melakukan penyelidikan terhadap Grok. Malaysia juga dikabarkan akan menempuh jalur hukum atas insiden ini.

Grok merespons hujatan yang datang dari berbagai penjuru dengan melakukan pembatasan untuk kemampuan penciptaan gambar. Kini, hanya pengguna berbayar yang bisa memanfaatkan fitur tersebut, untuk membatasi adanya perbuatan tak senonoh dari oknum jahat.

Dalam pidatonya, Hegseth menekankan pentingnya mempercepat inovasi teknologi dalam memperkuat militer AS. "Kita membutuhkan inovasi yang datang dari mana saja dan mampu mengevolusi kecepatan dan mencapai tujuan," kata dia.

Ia mencatat bahwa Pentagon memiliki data operasional yang terbukti dalam pertempuran dari dua dekade operasi militer dan intelijen. AI dikatakan akan membantu mengelola data yang ada untuk kepentingan militer di masa mendatang.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Perkuat Infrastruktur Digital Dukung Daya Saing Nasional