Startup AI Diramal Bakal Ramai Gulung Tikar di 2026, Ada Apa?

Redaksi,  CNBC Indonesia
04 January 2026 13:30
ChatGPT Atlas. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: ChatGPT Atlas. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor modal ventura bersiap angkat kaki dari perusahaan rintisan atau startup di sektor bisnis AI pada tahun ini, dengan alasan bisnis sektor itu semakin memberikan margin yang tipis dan tak banyak menciptakan keunggulan pasar.

Meski demikian, mereka menilai, 2026 juga akan menjadi tahun bagi platform dan agen AI yang bertransisi dari sekadar dasbor yang menarik dan chatbot yang menyenangkan menjadi pekerja otonom yang kompeten yang mengelola seluruh alur kerja.

Ukuran keberhasilan akan bergeser dari waktu yang dihabiskan dalam aplikasi AI ke jumlah tugas yang benar-benar diselesaikan oleh AI.

Dalam laporan The Wall Street Journal Pro Venture Capital, para pemodal ventura juga membahas isu-isu makro industri ini, dengan beberapa di antaranya mengungkapkan pandangan yang terpolarisasi mengenai kesehatan keuangannya.

Beberapa mengatakan lonjakan divestasi akan terjadi. Yang lain khawatir pasar penawaran umum perdana (IPO) yang lesu dapat terus mengurangi kinerja dana. Sedangkan pasar sekunder bisa menjadi pemenang sebenarnya, menurut perkiraan seorang investor.

Berikut ini rangkuman ramalam para investor modal ventura kepada WSJ terkait bisnis startup AI pada 2026:

1. Tahun Genting bagi Startup AI

Mohamed Nanabhay, mitra pengelola Mozilla Ventures: "Pada 2026, sebagian besar startup AI yang dibangun sebagai lapisan tipis di atas model dasar akan diakuisisi, digabungkan ke dalam perusahaan hyperscaler, atau ditutup sepenuhnya. Era menghasilkan keuntungan dari model orang lain akan berakhir, dan pasar akan menghukum tim yang tidak pernah membangun keunggulan kompetitif yang nyata."

Venky Ganesan, seorang mitra di Menlo Ventures: "Tahun 2026 adalah tahun 'tunjukkan uangnya' untuk AI. Perusahaan perlu melihat pengembalian investasi yang nyata. Mengingat beberapa pengeluaran agresif di bidang AI, Anda akan melihat perusahaan AI besar bangkrut atau mengalami masalah keuangan yang serius. Kita juga akan melihat perusahaan AI besar melakukan IPO."

Sarah Du, seorang associate senior di Uncork Capital: "Kita akan mulai melihat lebih banyak pergantian pelanggan di perusahaan aplikasi AI yang berkembang pesat. Saat gelombang pertama kontrak perusahaan multi-tahun akan diperbarui, kita akan melihat pergantian pelanggan yang nyata. Perusahaan yang belum mendorong penggunaan berkelanjutan atau ROI yang jelas akan kesulitan mempertahankan pelanggan, yang berpotensi mengungkapkan siapa yang benar-benar memiliki kesesuaian produk-pasar versus momentum."

Nnamdi Okike, salah satu pendiri dan mitra pengelola di 645 Ventures: "Baik investor publik maupun swasta akan kembali disiplin dan menerapkan pengawasan yang jauh lebih ketat terhadap investasi AI mereka. Penurunan tren ini akan mengakibatkan penurunan valuasi pada tahun 2027 di pasar publik dan swasta."

Simon Wu, seorang mitra di Cathay Innovation: "Tahun 2026 akan menjadikan Seri B sebagai penggalangan dana paling menantang bagi perusahaan rintisan, menandai momen ketika perusahaan yang hanya mengandalkan popularitas sesaat mulai stagnan dan bisnis nyata mulai muncul. Putaran pendanaan awal (seed) dan Seri A yang terlalu besar menetapkan ekspektasi pertumbuhan yang tidak realistis, menciptakan kesenjangan valuasi yang sangat besar pada Seri B."

2. Tantangan Baru

Jeremy Kaufmann, seorang mitra di Scale Venture Partners: "Tahun 2026 akan menjadi tahun terobosan bagi agen visual. Kita telah memiliki agen yang menulis email dan meringkas dokumen. Sekarang agen visual dapat bertindak secara otonom di dunia nyata tanpa tinjauan manusia."

Immad Akhund, salah satu pendiri dan CEO perusahaan fintech Mercury: "AI konsumen menjadi transaksional. Saya sudah menggunakan ChatGPT untuk memilih hotel dan langkah selanjutnya yang jelas adalah menyuruhnya memesan kamar."

Bucky Moore, mitra di Lightspeed Venture Partners : "Kemajuan dalam live video dan dunia virtual realistis akan meningkat secara dramatis. Model-model ini akan mulai mendukung serangkaian aplikasi pengguna akhir yang sepenuhnya baru dan memainkan peran penting dalam memajukan upaya kecerdasan buatan umum dari laboratorium-laboratorium terdepan."

Cathy Gao, mitra di Sapphire Ventures: "Kami akan mulai memperlakukan agen AI seperti staf junior dengan jabatan, anggaran, dan batasan pengeluaran. Begitu seorang agen dapat mengeluarkan pengembalian dana atau membeli inventaris, ia berhenti menjadi alat dan menjadi pekerja. Ini membalik model bisnis dari membayar untuk akses menjadi membayar untuk pekerjaan yang diselesaikan, seperti tiket yang diselesaikan atau uang yang dipulihkan."

3. Hasil Akhir Tak Mudah

Andre de Baubigny, salah satu pendiri dan mitra pengelola di MVP Ventures: "Pasar swasta tidak menyelesaikan masalah IPO; mereka menciptakan bom waktu yang siap meledak. Jika perusahaan terus menghindari pasar publik, tahun 2026 akan menjadi tahun di mana krisis likuiditas akan menghantam semua orang sekaligus."

John Chambers, mantan CEO Cisco Systems dan pendiri serta CEO JC2 Ventures: "Terlepas dari beberapa ketidakpastian dalam perekonomian, tahun 2026 akan menjadi tahun yang baik untuk IPO dan M&A, tetapi prosesnya tidak akan linear. Saya tidak percaya AI berada dalam gelembung. Sebaliknya, kita baru mulai melihat dampak mendalam yang akan ditimbulkannya pada pertumbuhan ekonomi, keuntungan perusahaan, dan produktivitas."

Garrett Marsilio, mitra di Delta-v Capital: "Kisah terbesar dalam modal ventura pada tahun 2026 adalah ledakan transaksi sekunder untuk membuka triliunan dolar yang terperangkap di dalam perusahaan teknologi swasta."

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Startup Tak Terkenal Baru Naik Daun Langsung Anjlok Gila-gilaan


Most Popular
Features