Kisah Mantan Cleaning Service Jadi Miliuner Berharta Rp 29 T

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
07 June 2022 13:55
Su Jin Lee, pendiri platform akomodasi Korea Selatan Yanolja. (Dok: Yanolja)

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa bilang seorang clean service, office boy atau janitor tak bisa jadi miliuner atau orang terkaya. Pria asal Korea Selatan Lee Su-jin membuktikan hal itu.

Lee Su-jin hidup dalam kemiskinan sejak kecil. Ia tinggal dari satu kerabat ke kerabat lain untuk bisa hidup. Ketika usianya 23 tahun, dia memutuskan untuk bekerja sebagai janitor di sebuah love hotel, sebuah penginapan yang bisa di sewa per jam dan biasanya digunakan untuk aktivitas seksual di Korea Selatan.

"Hari demi hari, saya merasa sengsara tetapi bertahan," ujar Lee Su-jin, seperti dilaporkan Bloomberg News, dikutip Selasa (7/6/2022). "Rasanya seperti mimpi sekarang."


Dengan uang yang diperolehnya sebagai petugas kebersihan, dia berinvestasi di saham dan memulai bisnis salad. Namun itu semua gagal. Meski begitu, kegagalan ini malah menjadi titik balik kehidupannya.

Lee Su-jin kembali ke hotel, tetapi bukan untuk bekerja sebagai janitor. Dia menggunakan pengetahuannya untuk membangun komunitas perhotelan mulai dari supplier handuk, tisu toilet, hingga pemilik hotel.

Pada 2007, Lee Su-jin meluncurkan aplikasi bernama Yanolja, artinya hey, let's play. Ini adalah aplikasi paling populer untuk memesan love hotel paling populer di Korea Selatan. Di Negeri ginseng itu, love hotel disebut motel.

Sepasang kekasih melihat aplikasi pemesanan akomodasi Korea Selatan di ponsel selama kesempatan berfoto di Seoul, Korea Selatan. (REUTERS /Hyunyoung Yi)Foto: Sepasang kekasih melihat aplikasi pemesanan akomodasi Korea Selatan di ponsel selama kesempatan berfoto di Seoul, Korea Selatan. (REUTERS /Hyunyoung Yi)

Dia mencoba membujuk pemilik love hotel untuk membuang citra buruk mereka tentang kebusukan, seks, perselingkuhan dan bunuh diri. Ia ingin meningkatkan fasilitas untuk menarik lebih banyak pelancong bisnis, keluarga, dan turis.

Ternyata usahanya tak sia-sia. Ia berhasil mengubah citra love hotel di Korea Selatan dan mengembangkan bisnis berbasis cloud yang membantu hotel mengelola sistem reservasi dan analitik big data untuk memprediksi perilaku pelanggan.

Yanolja kini dilaporkan memiliki lebih dari rekanan lebih dari 17.000 hotel dan jumlah karyawan mencapai lebih dari 350 orang. Sebagian besar karyawan fokus dan riset dan pengembangan termasuk software dan desain.

Pada kuartal I-2022, pendapatan Yanolja mencapai 100,5 miliar Won atau setara US$80 juta, naik 19% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih turun sedikit dari 9 miliar Won menjadi 8,8 miliar Won.

Media lokal Korea Selatan menyebut Yanolja berencana mencatatkan sahamnya (IPO) di bursa Amerika Serikat (AS) pada kuartal ketiga 2022. Selain SoftBank, investor Yanolja adalah GIC Singapura, Booking.com, dan Skylake Investment yang dipimpin mantan eksekuti Samsung Electronics Chin Dae-jae.

Forbes menghitung, Yanolja memiliki valuasi sekitar US$6,7 miliar pada Juli 2021. Pemegang saham terbesar adalah SoftBank Vision Fund 2 dengan 35,3% saham. Adapun Lee Su-jin memegang 16,54% saham, istrinya dan kedua putrinya memegang masing-masing 5,18%. Diperkirakan kekayaan keluarga mereka mencapai US$2 miliar atau setara Rp 29 triliun (asumsi Rp 14.500/US$).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Baru Mau Mulai 5G, Samsung Sudah Ngebet Mau Kuasai 6G


(roy/dru)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading