Jadi Sasaran Sanksi Eropa, CEO Yandex Pilih Resign

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
06 June 2022 16:10
Arkady Volozh, CEO of Yandex, attends his company's initial public offering at the Nasdaq MarketSite, Tuesday, May 24, 2011 in New York. Yandex is a Russian internet search company.  (AP Photo/Mark Lennihan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arkady Volozh memutuskan resign dari jabatannya sebagai CEO perusahaan mesin pencari populer Rusia, Yandex. Ini terjadi setelah namanya masuk dalam paket sanksi Uni Eropa akibat serangan Rusia kepada Ukraina beberapa waktu lalu.

Keputusan ini mengutip peran Yandex dalam "mempromosikan media dan narasi pemerintah dalam hasil pencariannya" dan "menghapus konten terkait dengan perang Rusia pada Ukraina", dikutip dari The Moscow Times, Senin (6/6/2022).

Arkady Volozh, CEO of Yandex, attends his company's initial public offering at the Nasdaq MarketSite, Tuesday, May 24, 2011 in New York. Yandex is a Russian internet search company.  (AP Photo/Mark Lennihan)Foto: CEO Yandex, Arkady Volozh (AP Photo/Mark Lennihan)

Pada hari Jumat lalu, Yandex mengumumkan Volozh akan mundur dari jabatannya sebagai direktur eksekutif dan CEO. Pria 58 tahun itu juga melepas kursi dewan direksi perusahaan.


Perusahaan yang dijuluki Google-nya Rusia itu juga menyatakan dewan akan terus berfungsi sperti biasa. "Yandex punya tim manajemen yang kuat dan mendalam yang ditempatkan dengan baik untuk membawa perusahaan ke level baru dengan dukungan berkelanjutan dari dewan," ujar Yandex.

Pengunduran diri Volozh akan berlaku segera. Dalam pernyataan yang sama, dia mengatakan sanksi Uni Eropa sebagai "salah arah dan akhirnya kontraproduktif".

Yandex sebelumnya telah kehilangan dua orang pemimpinnya, yakni wakil CEO Tigran Khudaverdyan yang mundur pada bulan Maret setelah dikenai sanksi UE, dan juga kepala eksekutif Elena Bunina.

Raksasa mesin pencarian yang berkantor pusat di Belanda tersebut merupakan yang terbesar di Rusia. Perusahaan mewakili lebih dari 60% pencarian internet negara pada kuartal keempat tahun 2021.

Beberapa tahun terakhir, Yandex memiliki kompromi yang halus dengan Kremlin. Namun setelah perang Rusia-Ukraina pecah, perusahaan dituding menekan sumber berita independen dalam mesin pencariannya karena pihak pemerintah setempat menekan informasi soal perang yang bertentangan dengan narasinya sendiri.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cegah Hoaks, Ini Cara Mencari Asal Foto & Video di Internet


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading