Terra LUNA 'Sekarat', Pembantaian Pasar Kripto Berlanjut

Tech - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
14 May 2022 14:07
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aset kripto Terra LUNA jadi buah bibir. Hal itu setelah harga uang kripto ini turun sampai 98% hanya dalam sepekan.

Menurut CoinmarketCap, pada Kamis (12/5/2022) pukul 10.47 WIB, Terra LUNA diperdagangkan pada US$0,45 per dolar atau setara Rp 6.525 per koin (asumsi Rp 14.500/US%). Padahal sepekan lalu, harga aset kripto primadona investor ini menyentuh US$ 86,7 (Rp 1,26 juta) per koin.

Krisis aset Kripto Terra LUNA dan TerraUSD telah menyeret jatuh harga uang kripto. Beberapa menyebut insiden ini mirip seperti skema ponzi dengan runtuhnya Lehman Brothers yang memicu krisis keuangan 2008.


Seperti diketahui Terra LUNA dan TerraUSD merupakan proyek pengembangan stablecoin yang dilakukan Terraform Labs. Stablecoin diklaim sebagai tempat penyimpanan nilai yang relatif aman di pasar kripto yang sangat berfluktuatif.

Stablecoin diikat dengan mata uang resmi yang diterbitkan bank sentral seperti dolar atau rupiah dan biasanya mempertahankan nilainya satu berbanding satu dengan mata uang resmi bank sentral.

Namun peristiwa Terra LUNA dan TerraUSD membuktikan mereka sama fluktuatifnya dengan cryptocurrency lainnya.

Penulis buku Attack of The 50 Foot Blockchain David Gerard menyebutkan kasus ini mirip seperti penyebab krisis finansial 2008. Pada tahun 2000-an banyak orang memiliki uang dan mencoba berinvestasi pada produk derivatif sektor properti berbasis hipotek dan pinjaman berdasarkan hipotek dengan asumsi harga rumah tak pernah turun.

Namun nyatanya harga rumah turun dan membuat produk derivatif sektor properti itu bermasalah yang membuat banyak investor mengalami kerugian dari aksi spekulasi ini.

Menurut dia, hal ini hampir sama dengan apa yang terjadi dengan peristiwa Terra LUNA dan TerraUSD.

"Proyek Terra didasarkan pada omong kosong dan secara efektif menekan harga Bitcoin. Mereka benar-benar menjatuhkan harga Bitcoin dan itu menghancurkan semua kripto lainnya karena semuanya berkorelasi. Jadi mereka melakukan mirip seperti di 2008. Perubahan leverage, overleveraged, kolpas, dan mengambil aset nyata dengan mereka," kata dia.

Sementara itu, COO Tokocrypto yang juga Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan Harmanda mengungkapkan industri aset kripto berada di pasar baru dan inovasi. Siklus yang naik dan turun sebenarnya biasa terjadi dan kondisi market kripto juga sejalan dengan situasi pasar modal yang sedang tertekan.

"Market kripto pasti akan rebound. Namun, sulit untuk memprediksi kondisi pasar ketika dalam kondisi market bearish. Saat ini melihat aksi jual yang luas di market, sepertinya tidak dapat dihindarkan, tapi ini bukan saatnya untuk panik," jelas Teguh dalam keterangannya dikutip Sabtu (14/5/2022).

Jika pasar modal kembali pulih, Teguh berharap hal yang sama juga terjadi di kripto.

"Kenaikan suku bunga acuan yang terlalu kencang tentu akan menghambat pertumbuhan konsumsi dan investasi, dua motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terra LUNA Effect: Duit Biaya KPR-Dana Tabungan Haji Lenyap!


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading