Sah! Negara Afrika Ini Akui Bitcoin, Jadi yang ke-2 di Dunia

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
28 April 2022 16:00
Ilustrasi/ Cryptocurrency / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Menyusul El Salvador, Central Afrika Republic menyetujui Bitcoin sebagai mata uang resmi. Keputusan itu berdasarkan suara bulat dari anggota parlemen.

Langkah itu, menurut pihak kepresidenan dalam pernyataannya, menempatkan Central Afrika Republic 'di peta negara paling berani dan paling visioner', dikutip dari BBC, Kamis (28/4/2022).

Central Afrika Republic merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Namun kaya akan berlian, emas, dan uranium.


Saat ini, Central Afrika Republic menggunakan mata uang franc CFA yang didukung Perancis bersama dengan sebagian besar bekas koloni negara itu di Afrika. Langkah pemerintah tersebut ditanggapi beragam oleh para analis.

Misalnya ada beberapa orang menyebutnya sebagai upaya melemahkan CFA. Saat kontes pengaruh atas negara kaya sumber daya antara Rusia dan Perancis sedang berlangsung.

"Konteksnya mengingatkan korupsi sistemik dan mitra Rusia yang menghadapi sanksi internasional, mendorong kecurigaan," ucap analis Thierry Vircoulon kepada AFP.

Sementara itu kepada BBC Afrique, ekonom Yann Daworo mengatakan langkah pemerintah itu akan membuat hidup lebih mudah. Sebab transaksi bisa dilakukan melalui smartphone dan juga kemudahan mengubah Bitcoin ke mata uang lain.

Sedangkan ilmuwan komputer Sydney Tickaya mengatakan adopsi itu prematur dan tidak bertanggung jawab. Dia menyoroti akses internet yang terbelakang di sana.

Sebagai informasi, cakupan pengguna internet di negara itu memang sangat rendah. Dalam laporan World Data tahun 2019, baru 4% warga Afrika Tengah yang punya akses ke dunia maya.

"Akses internet masih terbelakang di negara ini sementara Bitcoin sepenuhnya bergantung pada internet," kata dia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Siap-siap, Bitcoin Hampir Habis dan Ini yang Akan Terjadi


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading