Trump Cari Dana Rp 14 T Buat Saingi Facebook, Twitter Cs

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
02 December 2021 13:55
Donald Trump

Jakarta, CNBC Indonesia - Media sosial buatan Donald Trump berusaha cari dana hingga US$1 miliar atau Rp 14 triliun. Saat ini perusahaan sedang berusaha mencari investor untuk mau menggelontorkan uangnya.

Dua orang sumber mengatakan Trump Media & Technology Group berusaha dengan menjual saham ke hedge fund dan kantor keluarga beberapa kali penilaian. Ini dalam kesepakatan dengan perusahaan cek kosong di bulan Oktober lalu.

Perusahaan itu dikabarkan siap menerima US$293 juta jika kesepakatan listing di New York dengan perusahaan cek kosong Digital World Acquisition Corp selesai.


Dalam kesepakatan itu bernilai US$875 juta termasuk utang. Sekarang perusahaan berusaha mencari tambahan US$1 miliar agar valuasinya mendekati US$3 miliar.

Dalam laporan Reuters, saham Digital World dihargai US$10 dengan kesepakatan bersama Trump Media. Sumber tersebut mengatakan, Trump Media mencari cara mengamankan investasi swasta dalam ekuitas publik (PIPE), dengan begitu akan menghargai saham Digital World lebih dekat dengan harga terbaru, dikutip Kamis (2/12/2021).

Baik Trump Media dan Digital World tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Sementara bulan lalu, Bloomberg News melaporkan perusahaan berusaha menaikkan PIPE tanpa rincian persyaratan.

Sejak diblokir oleh sejumlah media sosial, Trump mengumumkan rencana meluncurkan aplikasinya sendiri. Ini jadi cara untuk dia melawan perusahaan tersebut.

Sebelum diblokir, Trump memiliki 89 juta pengikut di Twitter, 33 juta di Facebook, dan 24,5 juta di Instagram.

Namun di sisi lain, banyak investor yang kurang tertarik bergabung dengan perusahaan. Ini karena pelarangan dari platform media sosial setelah Trump mendorong pendukungnya berpartisipasi dalam serangan 6 Januari lalu di US Capitol.

Reuters mencatat sejumlah hedge fund yang mendukung peluncuran Digital World, termasuk Saba Capital Management dan Lighthouse Investments Partners telah menjual saham mereka. Ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan kesepakatan Trump.

Kesepakatan juga berisiko menghadapi regulasi. Bulan lalu, Senator AS Elizabeth Warren meminta Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) , Gary Gensler menyelidiki merger yang direncanakan itu dan berpotensi melanggar undang-undang sekuritas.

Namun pihak SEC menolak mengomentari apakah akan melakukan tindakan pada merger tersebut.


[Gambas:Video CNBC]

(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading