Biden Ajak Dunia Perangi Virus Ransomware, Rusia Dicuekin

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
13 October 2021 18:53
Ilustrasi peretasan jaringan internet

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mengajak sekitar 30 negara untuk memerangi virus ransomware secara internasional dalam sebuah acara yang berlangsung Rabu dan Kamis ini. Namun Rusia, yang kerap dituding jadi dalang serangan siber itu, ternyata tidak diajak dalam acara tersebut.

Negara-negara yang ikut dalam acara secara virtual seperti Inggris, Australia, India, Jepang, Perancis, Jerman, Korea Selatan, Uni Eropa, Israel, Kenya dan Mexico.

Menurut pejabat gedung putih, diskusi akan berkisar pada empat tema. Mulai dari membangun ketahanan atas upaya pemerasan, peranan cryptocurrency dalam pencucian uang tebusan, penegakan hukum dan tindakan peradilan serta aktivitas diplomasi.


"Saat kami mulai menyampaikan undangan, keinginan berpartisipasi untuk belajar, keinginan membantu negara lain untuk membangun kapasitas menjadi sangat besar," jelasnya dikutip dari AFP, Rabu (13/10/2021).

Namun sumber tersebut tak menjelaskan mengapa Moscow absen dalam acara itu. Dia hanya mengatakan,"kami tidak mengundang Rusia berpartisipasi karena beberapa alasan".

Pejabat itu menambahkan pihak Washington membentuk komunikasi dalam kanal terpisah dengan pemerintah Rusia.

Sepanjang paruh pertama 2021, AS memang diketahui mengalami beberapa kali serangan ransomware. Para pelaku telah memeras dan merebut data atau jaringan dengan imbalan pembayaran menggunakan cryptocurrency.

Kelompok peretas berbahasa Rusia atau yang beroperasi di negara itu kerap dituding ada di balik semua itu. Namun pihak Moscow berulang kali membantah bertanggungjawab.

Dalam pertemuannya di bulan Juli, Presiden AS Joe Biden bahkan meminta pemimpin Rusia Vladimir Putin untuk mengambil tindakan melawan grup Ransomware yang beroperasi di negara tersebut.

Grup ahli Washington-Moscow telah dibentuk dan mereka melakukan pertukaran yang terus terang dan profesional.

"Kami melihat beberapa langkah pemerintah Rusia dan sedang mencari tindakan lebih lanjut," kata pejabat Gedung Putih itu.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading