Huawei Didesak Buka Lowongan Kerja Ahli Asing, Buat Apa?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
30 September 2021 19:21
Ren Zhengfei, founder and CEO of Huawei, gestures during a round table meeting with the media in Shenzhen city, south China's Guangdong province, Tuesday, Jan. 15, 2019. The founder of network gear and smart phone supplier Huawei Technologies said the tech giant would reject requests from the Chinese government to disclose confidential information about its customers. (AP Photo/Vincent Yu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Huawei dikabarkan membuat keputusan atas Pusat Penelitian dan Pengembangan (R&D) di Amerika Utara. Yakni dengan merekrut lebih banyak talenta asing serta mengubah lokasi R&D menjadi platform rekrutmen.

Informasi ini disampaikan pendiri Huawei, Ren Zhengfei dalam sebuah memori internal tertanggal 21 Agustus 2021. Memori internal itu beredar di dunia maya pada hari Selasa lalu (28/9/2021).

Desakan Ren Zhengfei untuk mengubah R&D Huawei di Amerika Utara menjadi pusat rekrutmen bakat merupakan langkah penting. Alasannya mengingat rintangan besar yang harus dihadapi raksasa teknologi China itu di Amerika Serikat (AS), dikutip Global Times, Kamis (30/9/2021).


Ren Zhengfei menyebut Huawei akan mencarikan talenta terampil dari seluruh dunia, di periode penting untuk 'kelangsungan hidup dan pengembangan strategis' perusahaan. Dia menambahkan selama para talenta berbakat, maka bisa bergabung dengan perusahaan.

Selain itu Ren Zhengfei juga mendesak adanya ikatan dengan talenta asing agar dapat menarik mereka ke China untuk bekerja.

Sebagai informasi pusat litbang Amerika Utara milik Huawei awalnya berada di AS. Namun pada Desember 2019 menurut laporan sejumlah media saat itu, Ren Zhengfei mengatakan perusahaan akan memindahkan lokasinya ke Kanada. Namun saat itu tidak ada kejelasan apakah pusat litbang telah dipindahkan atau belum.

Memo internal itu juga muncul beberapa hari setelah CFO Huawei Meng Wanzhou dibebaskan dan diizinkan kembali ke China. Putri Ren itu, ditangkap di Kanada pada Desember 2018. Saat itu AS mengupayakan ekstradisi atas tudingan penipuan bank.

Keputusan bebas Meng Wangzhou tersebut terjadi setelah ada kesepakatan dengan pemerintah Amerika Serikat (AS).

Penangkapannya juga membuat pihak berwenang China menahan pengusaha asal Kanada bernama Michael Spavor serta mantan diplomat Michael Kovrig. Selain itu China juga bersikeras membantah kasus-kasus itu terkait dengan apa yang dialami Meng.

Sementara itu pada Jumat malam (24/9/2021), perdana menteri Kanada Justin Trudeau mengumumkan kedua orang tersebut telah dibebaskan dan dalam perjalanan pulang dari China, dikutip dari CNBC Internasional.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading