Efektivitas Vaksin Pfizer Lebih Cepat Turun dari AstraZeneca

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
19 August 2021 18:25
FILE - In this Monday, March 16, 2020 file photo, a patient receives a shot in the first-stage study of a potential vaccine for COVID-19, the disease caused by the new coronavirus, at the Kaiser Permanente Washington Health Research Institute in Seattle. On Friday, March 20, 2020, The Associated Press reported on stories circulating online incorrectly asserting that the first person to receive the experimental vaccine is a crisis actor. All participants who volunteered for the test were screened and had to meet a set list of criteria. They were not hired as actors to simulate a role. (AP Photo/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru mengungkapkan efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech melawan Covid-19. Hasilnya efektivitas vaksin itu lebih cepat menurun dibandingkan vaksin AstraZeneca, meski efektivitas awal vaksin Pfizer lebih besar.

Informasi saja, efektivitas adalah kemampuan vaksin untuk dalam menurunkan kejadian penyakit di dunia nyata.

"Dua dosis Pfizer-BioNTech memiliki efektivitas awal yang lebih besar melawan infeksi Covid-19, namun menurun lebih cepat dibandingkan dengan dua dosis vaksin Oxford-AstraZeneca," kata para peneliti di Universitas Oxford, dikutip AFP, Kamis (19/8/2021).


Studi tersebut diterbitkan pada Kamis namun belum melakukan peer review. Penelitian itu berdasarkan hasil Kantor Statistik Nasional di Inggris yang melakukan tes PCR dari Desember 2020 hingga bulan ini secara acak.

Temuan tes tersebut adalah adanya perbedaan signifikan pada kekebalan setelah dosis kedua antara Pfizer dan AstraZeneca, ungkap Departemen Kedokteran Universitas Nuffield.

Tim peneliti menemukan setelah empat hingga lima bulan suntikan diberkan, efektivitas dua vaksin akan sama. Mereka juga menambahkan soal efek jangka panjang vaksin perlu untuk dipelajari.

Selain itu penelitian Oxford juga menemukan perlindungan lebih tinggi didapatkan pada mereka yang sudah terinfeksi virus. Studi meneliti dua kelompok dengan lebih dari 300.000 orang berusia di atas 18 tahun.

Periode pertama dilakukan selama periode didominasi varian Alpha yang muncul di Kent, Inggris bagian tenggara. Sedangkan periode kedua pada Mei 2021 dan seterusnya, setelah varian Delta menjadi dominan.

Ini artinya menegaskan vaksin kurang efektif pada Delta, varian yang pertama kali teridentifikasi di India.

Vaksin AstraZeneca yang paling banyak ditawarkan di Inggris. Sementara untuk masyarakat berusia di bahwa 40 tahun menggunakan Pfizer atau Moderna karena adanya masalah pembekuan darah.

Penelitian ini hadir saat sejumlah negara memberikan suntikan booster pada masyarakatnya. Misalnya Israel yang memberikan suntikan booster saat 58% populasi telah mendapatkan dua suntikan Pfizer.

Amerika Serikat juga bersiap memberikan dosis ketiga pada September mendatang. Kebijakan ini datang karena kekhawatiran penurunan efektivitas pada vaksin Pfizer dan Moderna.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dikorting! RI Cuma Dapat 20 Juta Vaksin AstraZeneca Tahun Ini


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading