Saat Erick Minta Indra Rudiansyah Garap Vaksin Made in RI

Tech - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 July 2021 21:08
Indra Rudiansyah (Tangkapan Layar via Linkedin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak pihak berlomba-lomba untuk menemukan vaksin Covid-19. Vaksin merupakan salah satu game changer yang diharapkan bisa meredakan kondisi pandemi yang masih berlangsung di seluruh dunia saat ini.

Salah satu vaksin banyak digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, adalah vaksin Covid-19 AstraZeneca, hasil kolaborasi dengan University of Oxford.

Namun siapa sangka, di balik vaksin yang terkenal ini, ada satu sosok pemuda Indonesia yang terlibat dalam uji klinis vaksin tersebut. Ia adalah karyawan PT Bio Farma (Persero) Indra Rudiansyah.

Namanya belakangan semakin ramai dibicarakan usai viral video standing ovation penonton Wimbledon terhadap Profesor Dame Sarah Gilbert. Gilbert merupakan kepala peneliti yang mengembangkan vaksin Covid-19 tersebut.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan sempat bertemu dengan Indra saat melakukan kunjungan ke London, Inggris di akhir tahun lalu.

Kepada Erick, Indra menceritakan bagaimana dirinya bisa terlibat dalam program uji klinis vaksin tersebut, melalui dalam live Instagramnya di akun @erickthohir, Jumat (23/7/2021).

Indra, yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di Clinical Medicine, di University of Oxford, Inggris untuk penelitian vaksin malaria menggunakan viral vektor. Setelah melalui masa probation, Indra tergabung dalam grup malaria.

"Waktu itu [ada] grup emerging pathogen disease yang grupnya tidak banyak. Tapi karena pandemi datang, mereka membutuhkan banyak orang untuk bisa bekerja dengan Covid ini. Akhirnya salah satu PI-nya itu membuka lowongan untuk semua orang yang mau join, saya kebetulan daftar waktu itu dan saya daftar dan saya bisa melakukan teknik ini ini ini, kemudian yaudah yuk join aja, seperti itu awal mula keterlibatan saya dalam uji klinis Covid-19 ini," terang Indra.

Menteri BUMN Erick ThohirFoto: Dialog Menteri BUMN Erick Thohir dan peneliti Vaksin Covid-19 AstraZeneca Indra Rudiansya (Tangkapan Layar Instagram Erick Thohir).



Menanggapi hal tersebut, Erick menyebut hal tersebut bahkan lebih baik dibanding rencana awal Indra dalam menempuh pendidikan tersebut.

"Itu istilahnya kita punya rencana, tetapi kadang-kadang tidak sesuai tapi biasanya bisa lebih bagus," kata Erick.


Dalam kesempatan itu, Erick berharap Indra kembali ke tanah air begitu lulus Oktober tahun depan. Ia diharapkan bisa memberikan dukungan yang lebih baik kepada perusahaan tempatnya bekerja. Sebab, saat ini Bio Farma dengan dipersiapkan untuk bisa memproduksi vaksin dengan berbagai platform, sehingga pengalaman Indra sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya tersebut.



"Kita inactivated dan protein rekombinan bisa, tapi viral factor dan mRNA belum bisa. Tapi dengan adanya (tambahan) produksi 500 juta, yang 250 juta itu bukan buat Sinovac, bisa kita upgrade. Intinya Indra siap bantu, paling tidak Oktober tahun depan tetap gabung Bio Farma kibarkan bendera Merah Putih untuk vaksin ke depan, baik untuk Covid dan penyakit lain yang jadi ancaman negara kita," kata Erick.

Pengalaman Indra dinilai sangat berharga. Sebab, vaksin yang dikembangkan dengan viral vector ini berbeda dengan metode produksi yang saat ini digunakan oleh Bio Farma.

"Di Indonesia, Bio Farma masih inactivated virus. Dengan viral vector kita coba lihat apakah sistem dan produksinya sudah siap. Siapa tahu bisa kita kembangkan untuk vaksin merah putih atau vaksin BUMN yang bekerja sama dengan Baylor College of Medicine, Amerika Serikat (AS)," terang Erick.

Pendiri Mahaka Media itu mengungkapkan mengenai pentingnya ketersediaan vaksin di dalam negeri, tidak hanya vaksin Covid-19, namun juga vaksin-vaksin untuk penyakit lainnya.

Dia mengungkapkan, saat ini BIo Farma telah memiliki kapasitas produksi hingga 1,5 miliar dosis per tahun. Dengan kapasitas tersebut, diharapkan Bio Farma bisa melakukan pengembangan vaksin dengan berbagai platform lainnya.

Dalam pengembangan vaksin Covid-19 ini, Indra berada dalam tim Jenner Institute pimpinan Prof. Gilbert untuk uji klinis vaksin AstraZeneca-Oxford.

Untuk diketahui, Indra sebelumnya menempuh pendidikan S1 mikrobiologi dan S2 bioteknologi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam keterangan sebelumnya yang disampaikan Indra, dirinya berperan penuh dalam menganalisa data-data respons imun tubuh para relawan yang menerima vaksin. Sejak bergabung pada awal Mei 2020, Indra telah menghabiskan waktu rata-rata 10 jam di laboratorium setiap harinya.

"Ada ratusan peneliti yang bekerja. Sumber daya yang besar ini bertujuan agar vaksin segera bisa dikembangkan dengan cepat," kata Indra, dikutip dari laman Facebook LPDP Indonesia.

"Biasanya, untuk mendapatkan data uji klinis vaksin fase pertama dibutuhkan waktu hingga lima tahun, tapi tim ini bisa menyelesaikan dalam waktu enam bulan," lanjutnya.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading