Riset Terbaru Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Covid Versi Kemenkes

Tech - Monica Wareza, CNBC Indonesia
12 May 2021 15:35
Samples of Sinovac vaccine are displayed at Suvarnabhumi airport in Bangkok, Thailand, Wednesday, Feb. 24, 2021, aheads of the arrival of first shipments of 200,000 doses of the Sinovac vaccine and 117,000 doses of the AstraZeneca vaccine on Feb. 24. (AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan vaksin Covid-19 Sinovac, CoronaVac memiliki efektivitas tinggi untuk menurunkan risiko dan mencegah Covid bergejala hingga membutuhkan perawatan sampai dengan kematian hingga 98%.

Penurunan risiko ini hanya berlaku pada penyuntikan vaksin sebanyak dua dosis, sedangkan satu dosis vaksin hanya memberikan efektivitas hingga 13% saja.

Ketua Tim Peneliti Survey Efektivitas Vaksin Kemenkes Panji Dewantara mengatakan hasil ini diperoleh berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap tenaga kesehatan di wilayah DKI Jakarta, baik yang sudah dan belum diberikan suntikan vaksin.


"Berdasarkan penelitian ini sebetulnya pemberian vaksinasi dosis lengkap menurunkan risiko dan mencegah Covid bergejala bahkan hari ke 63 dan menurunkan risiko perawatan dan kematian karena Covid sampai 98%. Dibanding pada individu yang menerima dosis pertama, bahwa risiko terinfeksi Covid jauh lebih besar di mana Sinovac hanya bisa menurunkan 13% risiko pada kelompok dosis pertama," kata Panji dalam media briefing virtual, Rabu (12/5/2021).

Secara lebih detil, vaksin Sinovac ini bisa mencegah Covid-19 pada hari ke 28-63 sebesar 94%. Kemudian juga didapatkan hasil bahwa vaksin ini juga menengah perawatan karena Covid-19 sejak hari ke 28 sebesar 96% dan bahkan 98% disebutkan dapat mencegah kematian karena Covid.

Berdasarkan bahan paparan yang disampaikan Kemenkes subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini sebanyak 128.290 orang dengan rata-rata usia 31-33 tahun. Mayoritas subjek penelitian ini adalah perempuan sebanyak 60% dari total yang dilibatkan.

Penelitian ini dilakukan pada periode 13 Januari hingga 18 Maret 2021.

Studi ini menggunakan desain kohor retrospektif dengan subjek yang diteliti tidak mengalami positif Covid-19 satu bulan sebelum divaksin. Data yang digunakan diperoleh dari Kemenkes, baik itu rekam medis hingga data kasus Covid di Kemenkes maupun dari tim KPCPEN.

"Berfokus pada tenaga kesehatan baik yang belum dan sudah divaksin, 1 dosis atau sudah lengkap. Jadi kami bandingkan seberapa jauh efektivitas pemberian vaksin ini dibanding yang belum divaksin dan kaitannya dalam mencegah luaran tadi, terinfeksi lagi, riwayat perawatan atau meninggal karena Covid," jelas dia.

Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan angka efektivitas ini bahkan lebih tinggi dibanding dengan efikasi yang sudah terlebih dahulu dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang hanya sebesar 65%.

"Dari hasil kajian cepat ini kita bisa lihat di awal BPOM suda mengeluarkan efikasi Sinovac itu 65% artinya risiko tertular atau sakit itu hanya tinggal 40% lagi. Tapi dalam kajian cepat itu bisa memberikan efek proteksi sampai 95% untuk tidak menjadi sakit bahkan kalau dilihat yang membutuhkan perawatan dan kematian jauh lebih tinggi," terangnya di kesempatan yang sama.

"Kita ingatkan kembali pada waktunya dan tidak perlu memilih vaksin mana yang akan kita dapatkan dan tentunya saat divaksin untuk segera mendapat vaksinasi."


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading