Tak Hanya OJK, Bank Sentral Dunia Beri Warning Bahaya Kripto

Tech - RKH, CNBC Indonesia
12 May 2021 11:50
Infografis/Jangan Asal Beli, kenali Dulu 3 Mata Uang Kripto yang sedang Booming/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peringatan kepada investor terkait dengan maraknya investasi di aset kripto (cryptocurrency). Masyarakat diminta lebih hati-hati ketika memilih aset kripto, karena underlying ekonominya tidak jelas.

Peringatan ini disampaikan OJK melalui akun sosial media Instagram yang dipublikasikan hari ini, Selasa (11/5/2021). Dalam postingan tersebut, OJK memberikan penjelasan terkait keberadaan kripto sebagai alat pembayaran.

"Bagi yang belum tahu, aset kripto saat ini merupakan jenis komoditi, bukan sebagai alat pembayaran yang sah. OJK telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia @bank_indonesia sebagai otoritas pembayaran dan menyatakan bahwa mata uang kripto bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia," tulis akun Instagram OJK.


OJK menambahkan, aset kripto termasuk komoditas yang memiliki fluktuasi nilai yang sewaktu-waktu dapat naik dan turun sehingga masyarakat harus paham dari awal potensi dan risikonya sebelum melakukan transaksi aset kripto.

"OJK tidak melakukan pengawasan dan pengaturan atas aset kripto ya, melainkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan @bappebti @kemendag," tulisnya lagi.

Merujuk kepada peraturan Bappebti No 5/2019, crypto asset yang selanjutnya disebut aset kripto adalah komoditi tidak berwujud yang berbentuk digital aset, menggunakan kriptografi, jaringan peer-to-peer dan buku besar yang terdistribusi, untuk mengatur penciptaan unit baru, memverifikasi transaksi, dan mengamankan transaksi tanpa campur tangan pihak lain.

Kripto bukan hanya sedang populer di Indonesia, melainkan hampir seluruh dunia terlihat dari lompatan harga mata uang kripto. Selain OJK, otoritas keuangan lain di dunia hingga ekonom pun memperingatkan investor yang ikut memborong kripto.

Amerika Serikat

-Menteri Keuangan AS

Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyebut aset ini berbahaya karena sangat tidak efisien dijadikan alat bertransaksi tetapi menjadi ajang spekulasi tingkat tinggi. Seruan yang sama juga dikeluarkan bos bank sentral AS Jerome Powell, dengan menyebut Bitcoin dkk itu sebagai "kendaraan spekulasi."

Menurutnya masih banyak pertanyaan penting soal legitimasi dan stabilitas bitcoin. Ini membuatnya meragukannya.

"Saya tidak berpikir bahwa Bitcoin ... akan banyak digunakan sebagai mekanisme transaksi," katanya dalam sebuah konferensi di AS pada Februari lalu.

"Sejauh ini (Bitcoin) digunakan, saya khawatir banyak digunakan untuk 'keuangan gelap' (ilegal). Ini adalah cara yang sangat tidak efisien untuk melakukan transaksi dan jumlah energi yang dikonsumsi untuk memproses transaksi tersebut juga sangat mencengangkan."

-Bank Sentral AS

Gubernur Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan sebagian besar cryptocurrency dipakai untuk taruhan pada kenaikan harganya dan belum mencapai status mekanisme pembayaran.

"Cryptocurrency benar-benar kendaraan spekulasi," ujar Jerome Powell The Economic Club of New York dalam wawancara virtual dengan David Rubenstein, salah satu pendiri Carlyle Group. "Mereka tidak benar-benar digunakan secara aktif sebagai pembayaran."

Powell pun membandingkan cryptocurrency dengan emas. "Selama ribuan tahun, manusia telah memberikan emas nilai khusus yang tidak didapatkannya sebagai logam industri" ujar Jerome Powell seperti dikutip dari CNBC International, Kamis (15/4/2021).

-Ekonom

Bahkan ekonom Nouriel Roubini yang merupakan profesor ekonomi di Stern School of Business, New York University, dengan lugas menyebutkan bahwa Bitcoin adalah "gelembung yang diciptakan sendiri."

"Secara fundamental, bitcoin bukanlah mata uang. Itu bukan unit akun, juga bukan alat pembayaran terukur, dan bukan penyimpan nilai (store of value) yang stabil," kata ekonom berjulukan Dr. Doom tersebut sebagaimana diberitakan Business Insider, Jumat (19/2/2021).

Begitu juga dengan Kepala Investasi di Bank of America Michael Hartnett mengatakan reli bitcoin terlihat sebagai induk dari semua gelembung. Sementara Stephen Isaacs dari Alvine Capital percaya bahwa tidak ada dasar atau fundamental dari produk ini.

Eropa

-Bank Sentral Eropa

Presiden Bank Sentral Eropa (Europe Bank Central/ECB) Christine Lagarde, sebelumnya menyuarakan peringatan tentang penggunaan bitcoin dalam aktivitas ilegal. Dia mengatakan bahwa bitcoin bukan mata uang dan menyebutnya aset yang "sangat spekulatif" dan membutuhkan regulasi global.

-Bank Sentral Inggris

Bank Sentral Inggris juga menilai mata uang digital yang sedang tren ini tidak memiliki nilai intrinsik. Bahkan orang yang berinvestasi di mata uang digital ini, bersiap siap untuk kehilangan seluruh uangnya yang diinvestasikan di sana.

"Cryptocurrency tidak ada nilai intrinsik, mereka tidak memiliki nilai intrinsik," jelas Gubernur Bank Central Inggris, Andrew Bailey, mengutip CNBC International Sabtu, (8/5/2021).

Bailey mengatakan bitcoin, cryptocurrency paling terkenal, gagal bertindak sebagai penyimpan nilai yang stabil atau menjadi cara yang efisien untuk melakukan transaksi. Itu membuatnya tidak cocok untuk dijadikan sebagai mata uang dan taruhan berisiko bagi investor.

Bank sentral Inggris juga memandang remeh upaya Facebook untuk mendirikan mata uang digitalnya sendiri. Meski begitu, cryptocurrency kini menjadi primadona yang terus meningkat dari lembaga keuangan arus utama.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading