Menkes: Sejak SARS 2003, RI Tak Pernah Siap Hadapi Pandemi

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
25 March 2021 18:15
Budi Gunadi Sadikin ( Foto :Rachman Haryanto/detik.com)

Jakarta, CNBC Indonesia- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia tidak siap menghadapi pandemi Covid-19 atau SARS-Cov-1 meski telah mengalami SARS pada 2003. Virus ini kala itu banyak menyerang warga China dan menyebar dengan cepat. Kini varian lain dari virus ini kembali mewabah setelah 17 tahun dan telah menginfeksi lebih dari 100 juta orang.

"Sejak keluar di 2002 apa sih yang sudah disiapkan oleh kita untuk mencegah untuk membangun sistem pertahanan kesehatan agar siap. Jawabannya tidak ada," kata Budi, Kamis (25/03/2021).

Dia mengatakan bukan hanya Indonesia, dunia pun tidak siap menghadapi pandemi ini karena kebanyakan anggaran difokuskan untuk pertahanan persenjataan. Padahal menurutnya sejarah telah membuktikan ancaman virus nyata seperti black death, HIV, ataupun Ebola.


"Yang dikira membunuh banyak umat manusia adalah manusia sendiri, seperti ketika perang sehingga kita tidak punya sistem pertahanan kesehatan yang tepat padahal sudah pernah kena," tambahnya.

Untuk menanggapi pandemi, Budi mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun sudah memberikan cara yang sederhana yakni dengan mengurangi laju penularan sehingga jumlah orang terkena tidak meluas dan tetap berada di bawah kapasitas fasilitas kesehatan yang ada. Caranya dengan mengidentifikasi siapa yang terkena, telah menularkan ke siapa aja, dan dilakukan isolasi.

"Saat pandemi terjadi karena virus atau bakteri, umumnya usia hidup pendek. Tetapi dia menularin ke banyak orang. Covid-19 saya dengar hanya 14 hari, tetapi dari 1-5 hari nularinnya tidak karuan. Kemudian 5-10 hari juga masih bisa menularkan," katanya.

Dengan mengidentifikasi orang yang telah terpapar dalam kurun 1-10 hari maka jumlah yang akan tertular berikutnya bisa berkurang. Selain itu derajat fatalitasnya juga bisa lebih rendah, Budi mengungkapkan saat ini fatalitas Covid-19 hanya kurang dari 1% lebih rendah dr TBC.

"Tapi penularan yang cepat kalau satu orang nularin 1.000 dari sini lalu ke 1 juta orang itu jadi masalah. Bagaimana mengurangi penularan sudah dikasi WHO, pertama perubahan perilaku melalui protokol kesehatan," katanya.

Kemudian upaya testing, tracing, dan treatment (3T), perawatan bagi yang sudah sakit, dan barulah vaksinasi.

"Setiap pandemi kalau mau menang cuma ada satu cara mengurangi laju penularan, kita harus mengubah perilaku dengan protokol kesehatan, infrastruktur 3T yang baik, dan jika ada yang harus diketahui cara merawatnya seperti apa," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menkes: Testing Covid-19 Lampui WHO tapi Tak Ada Gunanya!


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading