Kebencian Jokowi akan E-Commerce Asing & Fenomena Mr Hu

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
05 March 2021 10:50
INFOGRAFIS, Saat Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo (Jokowi) tiba-tiba melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menggaungkan ajakan benci produk asing.

"Produk-produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri, bukan hanya cinta tapi benci. Cintai barang kita, benci produk dari luar negeri sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal sekali lagi untuk produk-produk Indonesia," katanya dalam konferensi pers, Kamis (4/3/2021).

Pernyataan ini membuah heboh di Indonesia dan bahkan menjadi perhatian internasional. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun harus turun tangan untuk menjelaskan alasan Presiden Jokowi dalam menggaungkan benci produk asing.


Menurut Lutfi, kebencian Presiden tertuju pada e-commerce atau toko online asing yang menjual produk impor secara tidak sehat dan membunuh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

"Perlu diluruskan ada background (latar belakang) yang menyertai pernyataan Pak Presiden. Laporan saya ke beliau tentang laporan praktik yang tak sesuai di perdagangan e-commerce. Praktik e-commerce yang mendunia, praktik ilegal perdagangan predatory pricing, jadi harga yang membunuh kompetisi," tutur dia dalam pernyataan Menteri Perdagangan yang disampaikan secara virtual, dikutip Jumat (5/3/2021).

Dia mengatakan bahwa e-commerce yang dimaksud adalah perusahaan internasional asing, bukan perusahaan asli Indonesia. E-commerce asing ini, menurut Lutfi, menjual barang-barang hasil meniru produksi UMKM dalam negeri. Mereka juga mempelajari apa yang disukai oleh masyarakat Indonesia.

"Ada sebuah tulisan yang dikeluarkan lembaga internasional dunia tentang cerita bagaimana hancurnya kegiatan UMKM terutama di fashion Islam yang terjadi di Indonesia. Pada 2016-2018, sebuah industri rumah tangga mempunyai kemajuan yang luar biasa menjual hijab dan industri tersebut mempekerjakan 3.400 pekerja yang ongkosnya lebih dari US$ 650 ribu dollar/tahun," kata Lutfi.

Sekitar sebulan lalu jadat maya ramai akan fenomena 'Mr Hu' yang diduga merupakan penjual dari China, produknya laris manis di marketplace Shopee. Fenomena 'Mr Hu' muncul di media sosial, salah satunya Twitter. 'Mr Hu' diduga merupakan seller dari China yang menjual berbagai produk yang kelewat murah di Indonesia melalui Shopee. Hal ini dikhawatirkan bakal membunuh para UMKM.

Maka dari itu, netizen di sosial media pun riuh. Mereka mencuitkan tagar #SellerAsingBunuhUMKM hingga #ShopeeBunuhUMKM.

Namun, Head of Public Policy and Government Relations Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo telah menampik fenomena Mr Hu. Menurutnya, Shopee Indonesia memastikan komitmen untuk berdampingan dengan pemerintah dalam rangka mendukung UMKM dan mendorong produk lokal. Hal ini dilakukan guna memajukan perekonomian Indonesia.

Ia pun mengungkap produk pedagang lokal masih mendominasi penjualan di Shopee dengan angka sebesar 97%. Sementara untuk produk cross border hanya sebesar 3%.

Radityo menjelaskan seluruh transaksi melalui cross border sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Termasuk juga pada komponen pajak dan Kepabeanan. Untuk itu, ia memastikan harga yang diberikan tidak lebih murah dibandingkan dengan produk UMKM lokal.

"Shopee berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan serta keberlangsungan bisnis para pelaku UMKM di Indonesia dengan memberikan sorotan khusus melalui inisiatif dan inovasi yang dihadirkan sejak awal Shopee berdiri. Kami telah menghadirkan rangkaian program edukasi dan pendampingan bersama dengan beberapa kementerian dan lembaga pemerintahan melalui Kampus Shopee, serta memasarkan produk UMKM melalui kanal khusus produk lokal Kreasi Nusantara," kata Radityo, seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.

Tak hanya itu, Shopee telah mencanangkan program inovatif guna mendukung dan menjaga keberlangsungan bisnis UMKM. Salah satunya melalui Program Ekspor Shopee 'Dari Lokal untuk Global' yang telah diimplementasikan sejak tahun 2019.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading