Kabar Baik & Kabar Buruk dari Vaksin Covid-19, Simak Yah!

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
11 November 2020 06:37
Julie Janke, a medical technologist at Principle Health Systems and SynerGene Laboratory, loads a sample for COVID-19 antibody testing Tuesday, April 28, 2020, in Houston. The company, which opened two new testing locations Tuesday, is now offering a new COVID-19 antibody test developed by Abbott Laboratories. (AP Photo/David J. Phillip)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Bumi sedang menanti vaksin Covid-19 ditemukan untuk mengakhiri pandemi corona dan hidup normal lagi. Saat ini ada kabar baik dan kabar buruk tentang vaksin Covid-19.

Kabar baiknya datang dari vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech. Menurut data awal uji klinis fase akhir vaksin ini efektif menangkal virus Covid-19 hingga lebih dari 90% tanpa efek samping berbahaya.

Data ini cukup menggembirakan karena sebelumnya memperkirakan efektivitas vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan hanya 75%. Sebelumnya penasihat kesehatan Gedung Putih Anthony Fauci bilang vaksin dengan efektivitas minimal 50-60% yang bisa diterima manusia.


"Hasil pertama dari uji klinis fase tiga uji vaksin mengindikasikan kemampuan vaksin kami untuk mencegah Covid-19," ujar CEO Pfizer Albert Bourla seperti dikutip dari CNBC International, Rabu (11/11/2020).

Kabar buruk datang dari vaksin Covid-19 Sinovac Biontech. Brasil menangguhkan uji vaksin CoronaVac. Uji klinis ini ditangguhkan sejak 29 Oktober 2020 dengan alasan adanya insiden merugikan yang serius.

Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa tak merinci apa itu insiden yang merugikan karena alasan aturan privasi. Namun penghentian ini merupakan langkah mundur dalam pengembangkan vaksin.

Direktur Instituto Butantan Sao Paulo Dimas Covas menduga penangguhan ini dikarenakan ada salah satu relawan yang meninggal tetapi "kematian itu tidak terkait dengan vaksin" sehingga ia heran atas keputusan Badan Kesehatan Brasil Anvisa.

"Ada lebih dari 10.000 relawan [vaksin] saat ini, kematian dapat terjadi ... Ini adalah kematian yang tidak ada hubungannya dengan vaksin dan karena itu bukan saatnya untuk menghentikan uji coba," kata Dimas Covas, seperti dikutip dari Reuters.

Kasus relawan vaksin Covid-19 Brasil meninggal bukan kali ini saja. Pada Akhir Oktober 2020, seorang relawan vaksin AstraZeneca dikabarkan meninggal dunia. relawan adalah seorang dokter yang menangani Covid-19. Setelah diselidiki ternyata ia tak mendapatkan vaksin tetapi plasebo.

[Gambas:Video CNBC]




[Gambas:Video CNBC]

(roy/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading