Vaksin Covid-19 Hanya Untuk Negara Maju, Benarkah?

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
10 November 2020 19:50
FILE - In this Monday, March 16, 2020 file photo, a patient receives a shot in the first-stage study of a potential vaccine for COVID-19, the disease caused by the new coronavirus, at the Kaiser Permanente Washington Health Research Institute in Seattle. On Friday, March 20, 2020, The Associated Press reported on stories circulating online incorrectly asserting that the first person to receive the experimental vaccine is a crisis actor. All participants who volunteered for the test were screened and had to meet a set list of criteria. They were not hired as actors to simulate a role. (AP Photo/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 10 bulan dunia telah berjuang melawan pandemi virus corona (Covid-19). Masyarakat global juga perlahan mulai beradaptasi dengan mengenakan masker dan menjaga jarak secara fisik dengan orang lain.

Namun di beberapa negara, terutama negara miskin, sistem perawatan kesehatan sedang berjuang untuk mengatasi meningkatnya jumlah infeksi yang kini sudah melebihi 50 juta kasus di seluruh dunia.

Selain itu, pandemi ini juga sangat merugikan mata pencaharian dan ekonomi secara umum karena banyak negara memasuki jurang resesi.


"Meskipun hampir semua orang rentan terhadap dampak ekonomi COVID-19, mereka yang sedang menghadapi risiko tertinggi dan masyarakat kelas bawah akan terkena dampak dampak paling parah," kata Dr Haniza Khalid, Ekonom Pembangunan Senior di Program Pembangunan PBB (UNDP) Malaysia, dikutip dari The Asean Post.

Misalnya, kondisi kehidupan yang buruk atau akses yang tidak memadai ke air bersih dan sanitasi mungkin menjadi hambatan untuk dapat melakukan tindakan pencegahan seperti menjaga jarak atau sering mencuci tangan.

Maka dari itu tidak heran ketika vaksin Covid-19 akhirnya tersedia, milyaran orang di negara miskin dan berpenghasilan menengah mungkin tidak diimunisasi hingga tahun 2023 atau bahkan 2024, menurut prediksi para peneliti di Duke University.

Meskipun belum ada vaksin potensial yang disetujui untuk digunakan, pemerintah di sebagian besar negara maju telah membeli 3,8 miliar dosis dari kandidat yang paling menjanjikan, dengan negosiasi untuk penambahan lima miliar lagi, menurut analisis dari Pusat Inovasi Kesehatan Global Duke University.

Namun karena tidak semua kandidat vaksin akan berhasil, banyak negara-negara kaya melakukan lindung nilai taruhan mereka dengan memesan lebih dari satu kandidat. Inilah yang membuat kesempatan negara-negara miskin untuk mendapatkan vaksin semakin mengecil.

Dilaporkan bahwa lebih dari 150 negara telah menandatangani dan berpartisipasi dalam inisiatif internasional COVID-19 Vaccines Global Access Facility (COVAX) yang bertujuan untuk membantu mengembangkan dan mendistribusikan dua miliar dosis vaksin secara lebih merata ke seluruh dunia dengan akhir 2021.

Namun ada beberapa kekhawatiran yang diangkat terkait inisiatif tersebut. Direktur eksekutif Center for Global Development, Amanda Glassman mengatakan bahwa satu kekhawatiran, yakni "komitmen COVAX untuk membeli vaksin yang mungkin terlalu mahal atau tidak sesuai untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah."

Sebagai contoh, vaksin mungkin memerlukan freezer khusus untuk penyimpanan atau beberapa dosis agar efektif. Hal ini terlihat dari vaksin Pfizer yang membutuhkan persyaratan cold storage.

Kini berbagai negara di seluruh dunia tengah mengembangkan vaksinnya masing-masing. Salah satunya dikembangkan oleh farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer dan perusahaan Jerman BioNTech.

Selain itu ada pula vaksin yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson, kolaborasi Universitas Oxford dengan perusahaan biofarmasi AstraZeneca, perusahaan India Bharat Biotech, dan Sputnik V dari Rusia.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading