Sudah November, Apa Kabar Program Vaksin Covid-19 RI?

Tech - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
06 November 2020 10:26
Dokter memperagakan proses vaksinasi saat simulasi pemberian vaksin di Puskesmas Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10). Pemerintah Kota Depok akan menggelar simulasi pemberian vaksin corona. Pemberian vaksin idealnya sebanyak 60 persen dari jumlah penduduk Kota Depok. Adapun yang hadir bukanlah warga sungguhan yang hendak divaksin. Hanya perwakilan dari Pemkot Depok saja. Terdapat sejumlah tahapan alur yang akan diterapkan Pemerintah Kota Depok dalam pemberian vaksin. Orang yang masuk dalam kriteria mendapat vaksin akan diundang untuk datang ke puskesmas. Nantinya mereka duduk di ruang tunggu dengan penerapan protokol kesehatan. Mereka kemudian menunggu giliran dipanggil petugas. Setelah itu masuk ke ruangan untuk disuntik vaksin. Orang yang telah divaksin akan diregistrasi petugas guna memantau perkembangannya secara berkala.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Terdapat sejumlah kabar baik mengenai perkembangan vaksin di Indonesia. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kembali bicara mengenai update pengadaan vaksin Covid-19.

Terbaru, dia menyebutkan bahwa pada bulan depan atau Desember 2020, akan ada tahapan baru mengenai vaksin.

"Diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama, di bulan Desember ada bahan baku vaksin dan vaksin yang masuk ke Indonesia," kata Airlangga dalam acara bertajuk 'Tranformasi Ekonomi: Momentum Menuju Indonesia Maju dan unggul' yang diadakan di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (5/11/20).


Airlangga bilang, pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah instrumen, termasuk payung hukum. Salah satunya adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 99 yang menurutnya bakal jadi peta jalan pengadaan vaksin.

"Tentunya diharapkan BPOM bisa me-resume ataupun menganalisa hasil dari clinical trial yang dilakukan di Bandung," kata Airlangga.

Adapun hasil uji vaksin di Bandung ini, kata Airlangga juga didorong rampung dalam waktu dekat. Nantinya, hasil tersebut juga akan diteliti dengan perbandingan vaksin yang dari negara lain.

"Diharapkan Minggu pertama bulan Desember sudah ada interim result dan intergrasikan dengan result negara lain," kata politisi Partai Golkar ini.

Airlangga juga menyampaikan sejumlah langkah pemerintah dalam penanganan kesehatan yang diseimbangkan dengan upaya pemulihan ekonomi nasional.

"Penanganan sisi kesehatan pemerintah mendorong jumlah testing yang ditingkatkan dan mengeluarkan patokan harga untuk testing sebesar Rp 900 ribu. Kemudian tracking dan treatment, mendorong kedisiplinan masyarakat dan operasi yustisi pemakaian masker," urai mantan Menteri Perindustrian ini.

Terpisah, Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjawab sejumlah pertanyaan warganet melalui tayangan video yang diunggah akun YouTube Kementerian BUMN. Salah satu yang dijawab adalah mengenai pengadaan vaksin.

"Ini perlu saya jawab kenapa kita perlu pesan vaksin dari beberapa negara. Sekarang kan yang udah kita pesan ada namanya Sinovac dari China itu. Kemudian dari Uni Emirat Arab ada yang namanya Sinopharm," kata Arya Sinulingga dalam tayangan tersebut, dikutip Kamis (5/11/20).

"Kemudian ada berapa lagi yang lain yang memang kita pesan dua atau tiga lagilah produk yang kita pesan itu untuk vaksin ini," lanjutnya.

Lantas, kenapa harus banyak?

Menurutnya, problem utama di Indonesia adalah memang Indonesia butuh banyak vaksin. Setidaknya, butuh sekitar 60% penduduk Indonesia yang harus divaksinasi.

"Supaya kita terpenuhi yang namanya herd immunity. Nah ini adalah jumlah minimal, 60% dari penduduk kita itu sekitar 160 juta orang yang harus di vaksin," ucapnya.

Karena vaksin bersifat inaktif, maka harus dua kali disuntik. Artinya perlu 2 dosis vaksin untuk 1 orang.

"Jadi total ada 320 juta vaksin. Nah dari Sinovac itu hanya dapat 140 juta, dari Sinopharm itu dapatnya 30 juta," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading