Resep Manjur Tuntaskan Pandemi Covid-19 dari Eks Direktur WHO

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
13 October 2020 14:54
Kondisi di Stasiun Manggarai Jakarta Selatan pada Kamis (28/5/2020) terpantau masih ramai. Banyak warga yang berlalu lalang meski masih memasuki pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dan akan berakhir 4 Juni 2020 di DKI Jakarta.
 
Di stasiun, para pengguna KRL khususnya dari sejumlah daerah penyangga Jakarta masih banyak berdatangan ke Ibu Kota saat jam kerja.
 
Dari pantauan CNBC Indonesia dilapangan, Kamis (28/5/2020), penumpang di Stasiun Manggarai terdiri dari berbagai macam kalangan. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak masih terlihat bepergian menggunakan KRL.
 
Sementara itu, tampak petugas keamanan stasiun akan menegur penumpang jika tak menggunakan masker dan tidak menerapkan physical distancing atau menjaga jarak.
 
Kendati begitu, situasi di Stasiun Manggarai tidak sepadat di saat-saat jam kerja. Penumpang di dalam kereta pun terlihat relatif sepi.
 
Untuk diketahui sebelumnya, PSBB untuk memutus penyebaran virus Corona atau Covid-19 belum dapat diterapkan 100%.
 

Begitu juga dengan tulisan larangan duduk atau saling menjaga jarak saat berada di dalam gerbong. Sesuai aturan moda transportasi saat masa PSBB, KRL harus membatasi jadwal kereta begitu juga kapasitas penumpangnya, yakni maksimal 50% dari jumlah normal. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Komentar terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengenai Covid-19 mempertanyakan keabsahan aturan penguncian wilayah (lockdown) yang dilakukan banyak negara sejak munculnya wabah Covid-19.

Eks Direktur Penyakit Menular WHO South-East Asia Region Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengakui lockdwon bukanlah pendekatan utama. Dalam menangani Covid-19 selain melakukan lockdown harus dilakukan test, trace, treat atau penanganan dengan perawatan di fasilitas kesehatan atau isolasi mandiri (3T).

"Masalahnya adalah kita ingin menghentikan penularan, dan penularan bisa dihentikan adalah yang sakit ditemukan dan diisiolasi supaya tidak menularkan. Mereka yang sehat melakukan protokol kesehatan, dan hidup sehat, jadi kalau ada yang sakit tidak menulari dia," kata Tjandra, Selasa (13/10/2020).


Selain itu, penularan dari sakit ke orang yang sehat harus dicegah semaksimal mungkin. Jika isolasi tidak bisa dilakukan maka isolasi dan karantina dibuat satu wilayah menjadi lockdown yang namanya berbeda di setiap negara.

"Pengalaman negara lain situasinya berkembang dari waktu ke waktu, dari Malaysia juga kan dilakukan pembatasan karena kasusnya meningkat, Eropa juga menerapkan kebijakan yang lebih ketat," katanya.

Kondisi epidimologi, bagaimana tren perkembangan kasus, serta kesiapan fasilitas kesehatan harus menjadi pertimbangan penting apakah perlu pembatasan atau tidak. Selain itu menurutnya masing-masing negara punya kebijakan sendiri yang baik.

Sebelumnya salah satu petinggi WHO Dr Davis Nabarro mengatakan para pemimpin dunia harus berhenti melakukan lockdown demi ekonomi. Dia mengatakan satu-satunya kesuksesan lockdown adalah meningkatkan kemiskinan, tanpa menyebutkan potensi menyelamatkan nyawa.

Kami di WHO, tidak menganjurkan penguncian, sebagai cara utama pengendalian virus ini," kata pria yang pernah dinominasikan untuk menduduki posisi Direktur Jenderal WHO tahun 2017 dalam wawancara dengan The Spectator.

Lebih lanjut Nabarro menegaskan lockdown dapat dibenarkan hanya untuk memberi waktu bagi para pemimpin menyusun kembali sumber daya untuk melindungi petugas kesehatannya. Ia mengatakan banyak industri global hancur, misalnya pariwisata dan pertanian kecil, yang hancur akibat lockdown.

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading