Dekati Bumi 6 Oktober, Mars Layak Dihuni Manusia?

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
05 October 2020 14:48
As Perseverance explores, the Maxar-built robotic arm will manipulate, assess, encapsulate, store and release collected Martian soil and rock samples. Image: NASA JPL-Caltech

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada 6 Oktober 2020 akan menjadi hari yang spesial karena Mars dan Bumi memiliki jarak paling dekat. Jaraknya hanya 62,1 juta kilometer.

Planet Mars akan bisa dinikmati dengan atau tanpa teleskop. Ini adalah jarak terdekat Mars denga Bumi dalam 15 tahun ke depan, seperti dikutip dari Space Alert, Senin (5/10/2020).

Mars merupakan salah satu planet yang sering diteliti untuk jadikan tempat tinggal baru manusia. Amerika Serikat (AS), China, dan Uni Emirat Arab (UEA) sudah mengirimkan misi penjelajahan ke planet merah ini.


Nah dalam Misi European Space Agency ke Mars telah mendeteksi adanya air cair terkubur di bawah es di planet merah ini. Lokasinya berada di dekat kutub selatan planet ini. Penelitian ini dipublikasikan di Nature Astronomy. Dalam riset tersebut ditemukan tiga danau di dekat kutub selatan Mars, yang diyakini para ilmuwan berisi air asin.

"Kami tidak hanya telah mengkonfirmasi posisi, luas dan intensitas reflektor yang diidentifikasi dalam studi 2018 kami," ujar salah satu peneliti Elena Pettinelli, "seperti dikutip dari Fox News, "tetapi kami juga menemukan tiga area baru yang sangat reflektif."

Pada tahun 2018, para ilmuwan membuat penemuan luar biasa tentang "badan air cair yang stabil" di Mars. Ketiga danau itu berukuran kira-kira 6 mil, hampir satu mil dalamnya dan sekitar 12 mil jauhnya dari danau yang ditemukan pada tahun 2018.

"Hasil kami memperkuat klaim deteksi badan air cair di Ultimi Scopuli dan menunjukkan adanya area basah lain di dekatnya," tulis para peneliti dalam abstrak studi.

"Kami menyarankan airnya adalah air asin perklorat hipersalin, yang diketahui terbentuk di daerah kutub Mars dan diperkirakan dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama pada skala geologi pada suhu di bawah eutektik."

Danau-danau tersebut berpotensi menjadi rumah bagi kehidupan mikroba, yang selama ini diketahui keberadaannya di embun beku dalam kondisi ekstrim.

"Meskipun keberadaan danau sub glasial tunggal dapat dikaitkan dengan kondisi luar biasa seperti keberadaan gunung berapi di bawah lapisan es, penemuan seluruh sistem danau menyiratkan bahwa proses pembentukannya relatif sederhana dan umum, serta danau-danau ini mungkin ada untuk sebagian besar sejarah Mars," tulis peneliti lainnya Roberto Orosei.

"Untuk alasan ini, mereka masih dapat menyimpan jejak dari bentuk kehidupan apa pun yang dapat berevolusi ketika Mars memiliki atmosfer padat, iklim yang lebih sejuk dan keberadaan air cair di permukaan, mirip dengan Bumi awal."

Tidak jelas apakah penemuan tahun 2018 terkait dengan penemuan saat ini, tetapi itu mungkin merupakan tanda masih ada lebih banyak air untuk ditemukan, jelas Enrico Flamini, presiden Sekolah Riset Internasional Ilmu Planet di Universitas Chieti-Pescara.


(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading