HUT ke-42 BPPT

Ternyata Inovasi BPPT Bantu RI Kurangi Impor

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
24 August 2020 14:23
Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia- Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menyatakan substitusi impor dan hilirisasi industri tetap harus menjadi prioritas dalam inovasi. Hal ini terbukti dari pengalaman menghadapi pandemi Covid-19, ketika BPPT dipaksa berinovasi dan berkolaborasi dengan industri dalam waktu singkat.

"Kalau (inovasi) BPPT yang pertama mengembangkan rapid atau ventilator misalnya ketika sampai industri, maka industrinya belum ada. Bisa dibayangkan presure yang dirasakan BPPT saat itu, harus cari mitra industri yang bisa produksi massal dan cepat, karena kalau lama maka ada anggapan menganggap produk Indonesia belum reliable," kata Bambang dalam perayaan HUT-42 BPPT, Senin (24/08/2020).

Hal ini seharusnya menurut Bambang bisa diterapkan di sektor industri lainnya sehingga bisa mengurangi impor. Jika tidak ada inovasi dari BPPT menurutnya Indonesia harus bergantung pada alat kesehatan impor yang kemungkinan sulit didapatkan di masa pandemi ini.


"Tapi memang tidak semua langsung sempurna, ini pelajaran terbaik buat BPPT ketika mencari mitra di masa pandemi ini. Itu proses belajar yang penting ke depannya pasca pandemi, harus memetakan dengan baik industri manufaktur di Indonesia apakah mereka sudah adaptif, apakah sudah percaya dengan inovasi dalam negeri apakah sudah ada kemampuan produksi dalam jumlah dan waktu tertentu," jelasnya.

Bambang mengatakan memberikan tugas tambahan untuk BPPT agar fokus pada substitusi impor dan memperbaiki image dari substitusi impor, apalagi banyak ekonom yang skeptis pada langkah ini karena kebanyakan gagal. Dia menegaskan setiap produk yang masuk ke Indonesia harus ada modifikasi agar cocok diterima.

Untuk negara sebesar Indonesia, substitusi impor dan promosi ekspor pun harus melihat konteksnya. Dia menegaskan substitusi impor yang dikedepankan pun bukan dengan subsidi dan proteksi yang berlebihan. Proteksi diperlukan di awal agar bisa berkembang ke depannya.

Jika ekspor dilakukan berlebihan tanpa ada hilirisasi maka produk yang diimpor merupakan produk dasar yang tidak memiliki nilai tambah, seperti CPO, hasil pertambangan, pertanian. Hal ini bisa membuat perekonomian Indonesia kembali mengandalkan sumber daya alam.

"Saya minta BPPT marilah ubah image substitusi impor yang belum 100% jadi mainstream menjadi salah satu tujuan kita inovasi. Tidak ada yang salah inovasi substitusi impor toh akan membantu mengurangi defisit," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading