Miliaran Orang Bakal Divaksinasi, Tapi Tak Kebal Seumur Hidup

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
14 August 2020 15:09
Anthony Fauci. (AP/Kevin Dietsch)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurang lebih ada 250 kandidat vaksin yang dikembangan untuk menangkal pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang tengah merebak sekarang. Namun sayang, para pakar memperkirakan proteksi yang diberikan vaksin waktunya tak akan berlangsung lama.

Dunia tak pernah seantusias ini untuk mengembangkan vaksin sebelumnya. Pemerintah, swasta, institusi riset hingga akademisi semua bekerja sama untuk segera menemukan vaksin virus corona yang paling ampuh. 

Sampai saat ini WHO mencatat ada 8 kandidat vaksin telah masuk uji klinis tahap akhir. Beberapa kandidat tersebut diantaranya dikembangkan oleh perusahaan asal AS seperti Moderna, Inggris dengan AstraZenecca-nya dan China dengan Sinovac serta Cansino Biologics.


Bahkan kabar yang paling menghebohkan adalah klaim Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengatakan Rusia telah berhasil menciptakan vaksin Covid-19 di bawah institusi risetnya bernama Gamaleya Research Institute. Vaksin yang menuai kontroversi tersebut dinamai 'Sputnik V'. 

Kajian yang dilakukan oleh firma konsultan manajemen global McKinsey & Company memperkirakan total investasi yang digelontorkan untuk pengembangan vaksin nilainya mencapai US$ 6,9 miliar. 

Para pengembang vaksin pun berlomba untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Estimasi McKinsey & Company menunjukkan untuk tahun 2020-2021 total kapasitas manufaktur 11 pengembang vaksin terbesar di dunia bakal mencapai 8,4 miliar dosis.

Dengan jumlah tersebut tentu sudah cukup untuk memvaksinasi seluruh penduduk bumi yang jumlahnya mencapai kurang lebih 7,8 miliar. Ini dengan asumsi satu dosis untuk satu orang.

Namun berdasarkan perhitungan yang lebih realistis, satu orang setidaknya membutuhkan dua dosis injeksi vaksin. Artinya masih ada defisit kurang lebih 6,8 miliar dosis vaksin.

Belum lagi memperhitungkan bahwa setidaknya hanya ada 5% dari total kandidat vaksin yang lolos uji tahap ketiga, maka defisitnya bakal semakin banyak.

Tantangan pengembangan vaksin tidak hanya terletak pada kapasitas manufakturnya, tetapi juga berapa lama vaksin bisa melindungi umat manusia dari serangan patogen ronde selanjutnya setelah penangkal tersebut tersedia untuk publik.

Terkait seberapa lama vaksin bisa memberikan perlindungan memang belum bisa diketahui. Namun para ahli termasuk penasihat kesehatan Gedung Putih Anthony Fauci memperkirakan proteksinya tidak akan berlangsung lama.

"Kami tidak tahu jawabannya. Maksud saya, Anda dapat berasumsi bahwa Anda akan mendapatkan perlindungan setidaknya untuk membawa kita melewati siklus ini. Jika Anda melihat infeksi alami, itu terjadi antara enam bulan hingga satu tahun....

"Kami akan berasumsi bahwa ada tingkat perlindungan, tetapi kami harus berasumsi bahwa itu akan terbatas. Ini tidak akan seperti vaksin campak. Jadi akan ada tindak lanjut dalam kasus tersebut untuk melihat apakah perlu vaksinasi lagi. Kita mungkin membutuhkan dorongan lebih lanjut. Namun saat ini kita tidak tahu berapa lama itu berlangsung." kata Fauci dalam wawancara dengan direktur NIH Dr. Francis Collins.

Jika mengacu pada review yang dilakukan oleh jurnal ilmiah kesehatan skala internasional The Lancet, kekebalan protektif yang bisa ditimbulkan oleh antibodi ini bisa berlangsung lebih dari satu tahun setelah dirawat, meski demikian imunitas ini juga akan menyusut.

Oleh karena itu, masih ada potensi ketidakpastian yang tinggi apakah perlindungan yang diberikan bisa tahan lama meski vaksin yang 'ampuh' sudah benar-benar tersedia untuk publik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading