Rival Tesla, Xpeng Motors Kumpulkan Rp 4,4 Triliun Jelang IPO

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
31 July 2020 20:47
G3 Xpeng. (Dok. xiaopeng.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen kendaraan listrik asal China, Xpeng atau Xiaopeng Motors sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan dana sekitar US$ 300 juta atau setara Rp 4,4 triliun (asumsi Rp 14.693/US$) sebelum penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat.

Dua sumber anonim yang akrab dengan isu ini mengatakan dana kekayaan negara Qatar, Otoritas Investasi Qatar, adalah salah satu investor dalam putaran pendanaan produsen salah satu saingan Tesla di China ini.

Kepada CNBC International, sumber tersebut menambahkan jika jumlah akhir yang dikumpulkan mungkin lebih tinggi dari US$ 300 juta, sebab sejumlah investor masih dalam diskusi untuk mengucurkan uang kepada Xpeng.


Injeksi uang tunai Xpeng ini merupakan bagian dari putaran pendanaan yang sama dengan US$ 500 juta yang diperolehnya awal Juli ini dari beberapa investor, termasuk Aspex, Coatue, Hillhouse Capital, dan Sequoia Capital China.

Hal ini mengikuti investasi sebesar US$ 400 juta pada November 2019 dari investor yang menyertakan pembuat ponsel pintar Xiaomi di China.

Lebih lanjut, sumber tersebut mengatakan jika Xpeng Motors mengajukan IPO di AS secara rahasia, tetapi belum memutuskan pertukaran mana yang akan didaftar.

Jika Xpeng go public di AS, mereka akan bergabung dengan sesama pembuat mobil listrik China, NIO yang sudah terdaftar pada September 2018. Pada Kamis (30/7/2020), Li Auto, pembuat mobil listrik China lainnya mulai berdagang di Nasdaq dan berhasil mengumpulkan US$ 1,1 miliar

Namun di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China dapat mempengaruhi perusahaan potensial asing yang terdaftar di Wall Street.

Pada Mei lalu, Senat AS mengeluarkan undang-undang yang akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan China yang melakukan perdagangan di bursa AS, membawa ancaman delisting bagi beberapa perusahaan asing.

Di sisi lain, China telah melahirkan sejumlah perusahaan mobil listrik berkat kebijakan menguntungkan untuk sektor ini, termasuk subsidi. Sementara beberapa produsen sudah 'kolaps', namun yang lain seperti Xpeng masih terus maju dan tumbuh.

Tetapi akibat pandemi virus corona (Covid-19), sektor kendaraan listrik China merugi. Penjualan kendaraan energi baru turun 33,1% YoY pada Juni, menurut data dari Asosiasi Produsen Otomotif China. Namun, penjualan telah meningkat month-on-month karena ekonomi China menunjukkan tanda rebound.

Awal tahun 2020, pemerintah Cina meluncurkan kebijakan yang akan meningkatkan permintaan mobil listrik. Beberapa subsidi kendaraan energi baru dan kebijakan keringanan pajak yang akan berakhir tahun ini diperpanjang hingga 2022. Infrastruktur pengisian daya nasional juga mendapat investasi sebesar 2,7 miliar yuan.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading