Demi Vaksin, Para Ilmuwan Minta Relawan Disuntik Virus Corona

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 July 2020 19:50
FILE - In this Monday, March 16, 2020 file photo, a patient receives a shot in the first-stage study of a potential vaccine for COVID-19, the disease caused by the new coronavirus, at the Kaiser Permanente Washington Health Research Institute in Seattle. On Friday, March 20, 2020, The Associated Press reported on stories circulating online incorrectly asserting that the first person to receive the experimental vaccine is a crisis actor. All participants who volunteered for the test were screened and had to meet a set list of criteria. They were not hired as actors to simulate a role. (AP Photo/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 100 ilmuwan terkemuka, termasuk 15 orang penerima Hadiah Nobel, menandatangani surat terbuka kepada Francis Collins, kepala National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat untuk meminta uji coba vaksin kepada manusia yang sehat.

Mereka meminta sukarelawan yang sehat sengaja untuk disuntikkan virus corona guna melihat apakah vaksin dapat berfungsi dengan baik dalam mencegah virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 tersebut.

Meskipun uji coba semacam ini menimbulkan kontroversi, tetapi organisasi '1 Day Sooner' dan para ahli terkemuka lainnya bersikeras kepada pemerintah AS untuk mengizinkan uji coba ini. Mereka merasa cara ini lebih cepat untuk mendapatkan vaksin.


"Jika uji coba tantangan dapat secara aman dan efektif mempercepat proses pengembangan vaksin maka ada anggapan yang kuat dalam penggunaannya, yang akan membutuhkan pembenaran etis yang sangat menarik untuk diatasi," tulis surat yang diterbitkan oleh '1 Day Sooner', sebagaimana dikutip oleh CNBC International.

Para ilmuwan yang menandatangani surat itu, termasuk direktur program vaksin Covid-19 University of Oxford, mengatakan "uji coba tantangan manusia dapat memberikan informasi jauh lebih cepat daripada uji coba kemanjuran konvensional, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan lebih lama."

"Dalam uji coba seperti itu, relawan masih menerima kandidat atau kontrol vaksin. Alih-alih melanjutkan hidup seperti biasa dan menunggu untuk terjangkit virus dengan sendirinya, sukarelawan sengaja terpapar patogen dalam kondisi yang terkendali. Selain lebih cepat daripada uji coba konvensional, uji tantangan lebih mudah untuk disimpulkan," tambah mereka.

Para penandatangan surat itu berasal dari berbagai disiplin ilmu termasuk epidemiologi, kedokteran, ekonomi, dan filsafat. Mereka berpendapat bahwa "pandemi Covid-19 harus segera diperangi di banyak bidang, tetapi sulit untuk menggambarkan pemulihan ekonomi dan sosial yang kuat tanpa adanya vaksin. Kami menulis untuk menggarisbawahi pentingnya uji coba tantangan manusia sebagai metode untuk membantu mengembangkan vaksin."

Surat itu mencatat bahwa anggota parlemen AS sudah mendukung langkah tersebut. Pada bulan April, 35 anggota Dewan Perwakilan meminta regulator AS mempertimbangkan untuk mengizinkan relawan sengaja disuntikkan virus corona untuk mempercepat pengujian vaksin.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sudah ada lebih dari seratus kandidat vaksin sedang dalam pengembangan di seluruh dunia. Setidaknya sudah ada 23 kandidat vaksin dalam tahap evaluasi klinis.

Di sisi lain, Francis Collins mengatakan uji coba tantangan terhadap manusia masih "ada di meja untuk diskusi, bukan di atas meja untuk mulai merancang rencana."

Surat itu juga ditandatangani oleh lebih dari 2.000 sukarelawan yang diorganisir oleh '1 Day Sooner'. Di dalam surat itu para ahli juga mengatakan "perlindungan penting harus diperluas untuk melindungi hak kesehatan dan otonomi sukarelawan."

Panduan dari WHO mengatakan bahwa uji coba tantangan manusia etis ketika mereka memenuhi kriteria tertentu. Perlindungan yang jelas harus ada, termasuk syarat bahwa peserta uji coba harus muda dan sehat, dan diberikan perawatan medis berkualitas tinggi dengan pemantauan yang ketat.

Hingga kini pandemi Covid-19 sudah menjangkit 13.725.610 orang di seluruh dunia, dengan 587.606 kasus kematian, dan 8.177.833 pasien berhasil sembuh per Kamis (16/7/2020), menurut data Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading