Gaet Netflix, Menteri Nadiem 'Disemprit' Anggota DPR Gerindra

Tech - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
23 June 2020 16:33
FILE- In this Nov. 4, 2017, file photo, the logo of American entertainment company Netflix is pictured at the Paris games week in Paris. Netflix, Inc. reports earnings Monday, April 16, 2018. (AP Photo/Christophe Ena, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menggandeng penyedia layanan streaming Netflix. Penyedia layanan Video on Demand (VOD) tersebut akan memperkuat program Belajar dari Rumah (BDR) selama masa pandemi Covid-19.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Gerindra Ali Zamroni langsung memberikan kritik atas kerja sama tersebut. Menurutnya, Netflix sendiri diketahui belum membayar pajak kepada Pemerintah Indonesia, sehingga mendapat sorotan dari Kementerian Keuangan.

Dari data Kemenkeu, khususnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 48 Tahun 2020 yang mengatur tentang penarikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen bagi subjek pajak luar negeri, Netflix belum memenuhi kewajibannya kepada negara. Kedua, Ali juga menyoroti legalitas Netflix di Indonesia yang masih dipertanyakan. Ia pun mengkritisi status karyawan yang bekerja di perusahaan layanan streaming dari AS itu.

Apalagi, tambah Ali, kerja sama Kemendikbud dan Netflix diduga bermotif kepentingan bisnis yang berujung komersialisasi pendidikan.

This July 17, 2017, photo shows a Netflix logo on an iPhone in Philadelphia. (AP Photo/Matt Rourke)Foto: Netflix AP/Matt Rourke
This July 17, 2017, photo shows a Netflix logo on an iPhone in Philadelphia. (AP Photo/Matt Rourke)

"Legalitas Netflix kan masih bermasalah. Selama mereka beroperasi, izin perusahaan apa sudah terdaftar? Kita harus mempertanyakan status para karyawan yang bekerja di Netflix, karena status perusahaannya belum jelas," tegas Ali di situs resmi DPR, Selasa (23/6/2020).

Ia upaya komersialisasi pendidikan yang dilakukan oleh Kemendikbud makin terasa dengan adanya kerja sama ini. Ali menilai yang dilakukan Kemendikbud dan Netflix diduga sarat kepentingan bisnis yang menjadi latar berlakangnya.


"Kita tahu bahwa latar belakang Mas Menteri kan pebisnis. Saya khawatir ada conflict of interest antara kementerian ini dengan Netflix. Jangan sampai dunia pendidikan ini terus menerus dikomersilkan karena memanfaatkan bencana Covid-19 ini," kritik Ali.

Terkait konten, Ali juga menilai bahwa konten-konten Netflix tidak layak dikonsumsi oleh para pelajar yang masih di bawah umur. Pengawasan terhadap isi konten Netflix saat ini disoroti tidak hanya oleh kalangan legislator, tetapi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan akademisi.


"Saya memastikan Kemendikbud belum mengajak bicara instansi seperti Kominfo, KPI, BRTI dan kalangan akademisi dalam hal konten Netflix. Konten Netflix perlu dikaji lebih jauh karena banyak yang tidak layak dikonsumsi pelajar. Jangan sampai kerjasama ini malah muncul masalah baru," papar Ali.

Ali mengingatkan agar Kemendikbud dalam mengambil semua kebijakan harus punya kerangka berpikir secara utuh. Sebab, tambah Ali, jangankan untuk bisa membuka dan menikmati Netflix, faktanya masih banyak daerah yang belum bisa mendapat sinyal internet, terutama di daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kemendikbud dalam mengambil kebijakan jangan Jakarta sentris, tapi harus Indonesia sentris.

"Sudah dikaji belum secara utuh kerja sama ini. Jangankan menikmati tayangan Netflix, untuk mengakses internet saja kan masih banyak yang kesulitan. Terutama di daerah-daerah 3T. Pemerataan akses internet masih belum optimal," tegas Ali. Ia pun menyayangkan kerja sama Netflix dan Kemendikbud di tengah potensi TV Edukasi milik Kemendikbud yang belum dioptimalkan.

Padahal, terang Ali, di Kemendikbud ada Pustekkom atau TV Edukasi sebagai televisi pendidikan yang berada di bawah kementerian pendidikan secara langsung. Ia mengakui pernah datang langsung ke Studio TV Edukasi Pusdatin/ Pustekkom Kemendikbud. Menurutnya peralatan dan jaringan lengkap, SDM juga mumpuni itu saja dikuatkan, tidak perlu bekerjasama dengan Netflix.


"Di Kemendikbud itu ada TV Edukasi, justru menjadi pertanyaan kenapa Kemendikbud malah bekerjasama dengan Netflix. Ini kan perlu kita kritisi ada apa sebenarnya dengan kerja sama Netflix dan Kemendikbud. Harusnya Kemendikbud kuatkan TV Edukasi dengan menambah anggarannya. Bukan sebaliknya," tutupnya.

Tak hanya DPR, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengkritik rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bakal menayangkan film-film layanan streaming video Netflix di TVRI.

Komisioner KPI Hardly Stefano menyayangkan kerja sama Mendikbud Nadiem Makarim yang lebih memilih perusahaan layanan streaming video asal Amerika tersebut dibanding memberdayakan para content creator dari dalam negeri.

"Saya selaku Komisioner KPI menyayangkan kebijakan Menteri Pendidikan yang lebih memilih untuk berkolaborasi dengan Netflix, yang merupakan provider konten video streaming luar negeri," katanya.

Untuk informasi, Kemendikbud akan menayangkan film-film dokumenter besutan Netflix di TVRI memasuki masa libur sekolah tahun ajaran 2019/2020.

Nadiem mengatakan rencana tersebut masih menjadi bagian dari program belajar dari rumah di bawah Kemendikbud memasuki masa libur sekolah.

"Sebagai bagian dari program Belajar dari rumah dan untuk pertama kalinya di dunia, film-film dokumenter Netflix akan ditayangkan melalui saluran televisi," kata Nadiem dalam keterangannya.

Program penayangan film-film dokumenter garapan Netflix di TVRI kata Nadiem akan mulai ditayangkan secara langsung mulai besok, Sabtu (20/6) di TVRI pada pukul 21.30 WIB. Dan akan tayang ulang setiap Minggu dan Rabu pada pukul 09.00 WIB.


[Gambas:Video CNBC]

(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading