Data Tokopedia & Bhinneka Bocor, Masih Aman Belanja Online?

Tech - Ratu Rina, CNBC Indonesia
11 May 2020 17:13
Cover Headline, E-Commerce
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri e-commerce tanah air tengah diterpa isu soal keamanan siber usai jutaan data pelanggan diretas dan diperjual-belikan di situs gelap. 91 data pengguna bocor Tokopedia dan kini 1,2 juta data pengguna Bhinneka diambil hacker. Masih amankan belanja di toko online?

Pakar IT dari Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengatakan transaksi tetap dapat berjalan normal. Sejauh ini sistem informasi teknologi (IT) di e-commerce tersebut relatif aman. Menurutnya, indikator aman dalam belanja online dapat dilihat dari pengalaman di kalangan pengguna itu sendiri.

"Misalnya dia sudah bayar tetapi tidak dapat barangnya karena penjualnya ternyata fiktif begitu. Kalau seperti itu kan nggak aman, berapa banyak kejadian seperti itu kalau banyak berarti kan nggak aman dari sisi screening siapa yang jualan, itu yang menjadi ukuran aman atau tidak aman begitu," kata Ismail kepada CNBC indonesia, Senin (11/05/20).


"Mereka (pengguna) berbisnis jual beli di e-commerce yang kita tahu tidak sepenuhnya aman, maka mereka harus hati-hati. Hati-hati di kalangan pembeli ini ya," lanjutnya.

Dia menyarankan para pengguna harus lebih teliti sebelum membeli dan melakukan transaksi dengan penjual yang ada di platform e-commerce. "Jadi sebagai contoh pembeli belanja kan harus terima resiko soal keamanan karena kan memang tidak sepenuhnya aman, jadi pembeli harus tahu resikonya apa supaya meminimalisir resiko itu dengan riset dulu, cek dulu, apakah valid atau tidak," ujar Ismail.

Selain itu, Ismail menjelaskan para pengguna juga harus seminimal mungkin menautkan data di akun platform e-commerce miliknya.

"Data-data seminimal mungkin tapi kan mau tidak mau kita harus kasih nomer telepon dan alamat rumah untuk pengiriman barang. Jadi memang kita ga bisa lepas untuk simpan data kita yang valid, makanya dalam konteks itu menjadi kewajiban e-commerce harus bertanggung jawab menjaga," jelasnya.

Ia juga menyarankan para pengguna mengurangi pemakaian kartu kredit dan penggunaan layanan PayLater yang tengah ramai ditawarkan para platform e-commerce. Sejauh ini layanan PayLater memang mewajibkan para penggunanya mengunduh Kartu Tanda Penduduk (KTP) ke platform sebagai syarat untuk dapat menikmati layanan tersebut.

"Paylater itu kan utang. Iya lebih baik ga usah, karena terlalu banyak data kita, terlebih keamanan datanya juga nggak bagus. Kenapa ngasih KTP (jika pakai Paylater) kalau ga punya uang ya ga usah belanja," pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]






(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading