RI Defisit 9 Juta Talenta Digital: Butuh 600 Ribu Orang/Tahun

Tech - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
26 November 2019 14:24
Demikian disampaikan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro.
Jakarta, CNBC Indonesia - Terjadi defisit kebutuhan tenaga kerja kreatif di Indonesia. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengutip laporan Bank Dunia dan McKinsey terkait hal tersebut.

Dari data dua lembaga terkait, terungkap masih ada gap antara kebutuhan dengan suplai talenta digital di Indonesia. Demikian disampaikan dalam acara Digital Construction Day 2019 yang diselenggarakan PT PP (Persero).

"Keduanya (Bank Dunia dan McKinsey) menyebut, dalam kurun waktu 2015-2030, Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital," kata Bambang di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (26/11/2019).


"Berarti kalau kita bagi rata, setiap tahun harus ada suplai 600 ribu orang. Jadi harus ada 600 ribu talenta digital yang masuk ke pasar setiap tahun," lanjutnya.

Pemenuhan tersebut, menurut Bambang, tidak mudah. Pasalnya, meski jumlah mahasiswa di Indonesia tergolong besar, namun mahasiswa yang khusus membidangi terkait digital atau sejenisnya, relatif terbatas.

"Nah tingginya tingkat kebutuhan tersebut saat ini belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga digital yang terampil dan siap terserap industri," tandasnya.

Ucapan Bambang diperkuat dengan catatan Bank Dunia. Dia menegaskan, Bank Dunia mencatat masih ada mismatch antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri digital.

RI Defisit 9 Juta Talenta Digital: Butuh 600 Ribu Orang/TahunFoto: Bambang Brodjonegoro (CNBC Indonesia/Tri Susilo)


Karena itu, pemerintah ke depan berupaya untuk merumuskan formula demi menambal kebutuhan itu. Pola pelatihan koding yang berlaku di Finlandia, dijadikan acuan untuk diterapkan di Indonesia.

Meski belum menyebutkan kebijakan konkret, namun dia ingin ada pelatihan koding tanpa memandang latar belakang masyarakat. Hal ini dibutuhkan, untuk memangkas mismatch itu tadi.

Bambang menduga, Indonesia sebenarnya punya potensi. Bisa jadi, menurutnya ada talenta tersembunyi, dalam arti ada warga sebenarnya ingin menggeluti bidang digital, namun tak ada kesempatan.

"Barangkali karena mengikuti orang tuanya sehingga tidak sesuai dengan apa yang menjadi hobinya atau keinginannya. Akhirnya kita mungkin, kehilangan banyak talenta digital," bebernya.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading