Ekonomi Digital Meroket Tapi Serapan Tenaga Kerja Kok Lesu?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 October 2019 16:37
Foto: Infografis/Kementerian Digital/Edward Ricardo
Jakarta, CNBC IndonesiaEkonomi digital Indonesia tumbuh dengan sangat pesat pada laju rata-rata 49% per tahun. Namun sayangnya pertumbuhan yang sangat pesat tidak diimbangi dengan pertumbuhan serapan tenaga kerja, yang terjadi justru sebaliknya.

Menurut laporan e-Conomy SEA 2019 yang dirilis oleh Google, Temasek dan Bain & Co, sejak 2015-2019, ekonomi digital di Indonesia tumbuh dari US$ 8 miliar menjadi US$ 40 miliar. Artinya setiap tahunnya ekonomi digital tumbuh di angka yang fantastis yaitu 49%.


Meroketnya ekonomi digital Indonesia turut mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor ini. Menurut laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak 2016 hingga akhir tahun 2018 rata-rata penanaman modal asing (PMA) tiap tahun mencapai US$ 30 miliar.


Sedangkan investasi di sektor digital pada periode yang sama mencapai US$ 2.67 miliar per tahun atau setara dengan 8,9% dari PMA di Indonesia digelontorkan untuk sektor digital.



Kalau dibandingkan kontribusi investasi di sektor ekonomi digital terhadap total investasi asing di Indonesia, maka proporsinya terus tumbuh. Tercatat pada 2018, kontribusi investasi ke sektor digital mencapai 13% dari total investasi asing di Indonesia. Menurut rilis data BKPM, dari aliran investasi asing per tahun di level USD 20-25 miliar, diperkirakan 10% disumbang dari sektor ekonomi digital.



Sejak tahun 2014 hingga paruh pertama 2019 terlihat pergeseran investasi asing di Indonesia. Proporsi investasi di sektor primer dan sekunder makin menipis. Makin ke sini investor asing makin melirik sektor tersier. Perlu diketahui bersama bahwa sektor tersier merupakan sektor yang non-tradable seperti sektor jasa sedangkan sektor tradable merupakan terdiri dari sektor primer dan sekunder seperti agrikultur dan manufaktur.



Praktis pergeseran ini menyebabkan penurunan serapan tenaga kerja di Indonesia karena sektor jasa ini lebih dikenal sebagai industri yang padat modal ketimbang padat karya yang membutuhkan banyak pekerja alias labor intensive.

Jumlah serapan tenaga kerja total maupun serapan tenaga kerja pada proyek PMA terus berkurang sejak 2016. Pada tahun 2016 serapan tenaga kerja pada proyek PMA mencapai 950 ribu orang atau sekitar 68% dari total serapan tenaga kerja.


Jumlah tersebut turun pada tahun 2017 menjadi 770 ribu orang atau sekitar 65% dari total serapan tenaga kerja total. Pada 2018, serapan tenaga kerja pada proyek PMA kembali turun menjadi 490 ribu atau hanya 51% dari total serapan tenaga kerja.

Penurunan serapan tenaga kerja tersebut terjadi seiring dengan peningkatan proporsi investasi pada sektor tersier dan meningkatnya pendanaan pada sektor ekonomi digital. Yang lebih mengenaskan lagi adalah sudah industrinya padat modal bukan padat karya, skill dan SDM Indonesia belum sepenuhnya mendukung perkembangan ekonomi digital ini.



(BERLANJUT KE HALAMAN 2)



(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading