Bukalapak PHK Seratus Karyawan & Rencana Ubah Rugi ke Profit

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
16 September 2019 17:43
Bukalapak memutuskan untuk merubah fokus perusahaan dari sebelumnya mengejar pertumbuhan menjadi mengejar profit. Salah satunya dengan PHK ratusan karyawan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu startup unicorn tanah air, Bukalapak, memutuskan untuk merubah fokus perusahaan dari sebelumnya mengejar pertumbuhan menjadi mengejar profit. Langkah awal tersebut dimulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) ratusan karyawan.

Sebelumnya CNBC Indonesia melaporkan Bukalapak melakukan PHK terharap ratusan karyawan. PHK ini dilakukan pada beberapa divisi termasuk marketing dan engineering. Mengutip iPrice pada kuartal II-2019 Bukalapak memiliki 2.600 karyawan.


Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan PHK ratusan karyawan tidak ada hubungannya dengan kinerja perusahaan. Tetapi kesulitan pendanaan dari startup AS seperti Uber, Lyft dan WeWork jadi 'perhitungan' dalam keputusan petinggi perusahaan.


"Fokus kami bukan lagi pertumbuhan tetapi membangun perusahaan yang berkelanjutan," ujar Teddy Oetomo seperti dikutip dari Nikkei Asia Review, Senin (16/9/2019). "Kami sudah terlalu naif. ... pada beberapa area [bisnis] kami bekerja terlalu keras."

Bukalapak PHK Ratusan Karyawan & Rencana Ubah Rugi ke ProfitFoto: Bukalapak (google)

Teddy Oetomo menambahkan keputusan PHK diambil langsung oleh dewan direksi dan tidak ada tekanan dari investor. Saat ini investornya Bukalapak adalah Ant Holdings (Grup Alibaba), GIC (wealth fund Singapura), Elang Mahkota Teknologi (Emtek).

"Bukalapak memiliki modal yang cukup untuk membawa EBITDA ke positif," ujar Teddy Oetomo. Bukalapak menargetkan bisa mencetak profitabilitas secepat mungkin dan berharap tidak melakukan PHK lagi. Ia menambahkan mereka melakukan PHK dengan memberikan "kompensasi di atas aturan yang ada."


Teddy Oetomo menambahkan bisa saja Bukalapak mengumpulkan lebih banyak dana dari investor baru atau investor eksisiting untuk mempertahankan karyawan yang ada. Tetapi itu "tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Teddy Oetomo.

"Secara potensial, akan ada waktu - saya tidak tahu kapan - uang murah itu mungkin berhenti mengalir," katanya. "Kami tidak bisa mengendalikan itu."


Tetapi perusahaan dapat bersiap menghadapi itu. "Jika hal seperti itu terjadi, kami sudah menjadi perusahaan yang berkelanjutan, dan karena itu kami tidak akan terkena dampak terlalu banyak."

Belakangan para investor memang semakin meragukan penilaian valuasi startup. Investor ingin melihat bagaimana startup lanjutan seperti unicorn bisa menghasilkan profit dan tak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis.


"[Para] unicorn harus menghadapi kenyataan menjalankan bisnis yang tidak menguntungkan dengan kedok 'ekspansi' alih-alih menguangkan akan jauh lebih sulit untuk dicapai di tahun 2020 yang lebih keras," ujar Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA di Singapura.


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading