Ini Alasan Perusahaan Game RI Kalah Saing dengan Asing

Tech - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
25 April 2019 07:52
Ini Alasan Perusahaan Game RI Kalah Saing dengan Asing
Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun memiliki pangsa pasar yang besar hingga 60 juta pemain dan pendapatan hingga US$1 miliar pada 2019, perusahaan game lokal masih kesulitan berkembang dan bersaing dengan perusahaan game asing.

Pada acara 2019 Challenge Market Program in Indonesia yang ditujukan untuk mempromosikan game Korea Selatan di Indonesia, CEO Arsanesia Adam Ardisasmita mengaku kondisi ini adalah sebuah tantangan.

Arsanesia adalah perusahaan game developer Indonesia yang bermarkas di kota Bandung dan telah berdiri sejak 2011.


"Market share spending untuk game di Indonesia naik hampir 30% menjadi US$ 1 miliar," tambahnya. "Namun, hanya kurang dari 1% yang masuk ke game developer Indonesia. Jadi, 99% masuk ke (developer game) luar (negeri)."

Perusahaan publisher game Prodigy juga mengungkapkan pendapat senada. Prodigy telah berdiri sejak 2009 dan mengaku sudah menjadi salah satu perusahaan yang bisa mempublikasikan game papan atas seperti Battle of Immortal, Harvestmoon, Touch Online, dan Dance On. Namun mereka mengaku akan sulit untuk bertumbuh jika tidak didukung oleh pemerintah.


"Susah bila tidak didukung oleh pemerintah," kata Project Director Prodigy Robinson.

"Harusnya untuk publisher lokal di-support-lah," tambahnya. "Banyaknya sekarang dari luar negeri yang memegang market. Kalau kita mau berkompetisi agak sulit, publishing dan development mereka sudah mereka ambil, dana mereka juga kuat."

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah asing juga telah mendukung perusahaan game dari sisi dana, pendidikan, dan infrstruktur. Hal ini yang dapat menjadi alasan pesatnya pertumbuhan industri game asing.

Ini Alasan Perusahaan Gim RI Kalah Saing dengan AsingFoto: Infografis/5 Game Paling Hot di Steam Saat Ini/Edward Ricardo

Hal ini juga didukung oleh seorang developer game lainnya, Valencia Stefany. Ia mengatakan game Indonesia biasanya hanya bertahan sebentar.

Berkaca dari pengalaman di perusahaannya, game yang dapat bertahan paling lama hanya game Angkot. Game tersebut berhasil bertahan 5 tahun dari 2008 sampai 2013.


Solusi dan harapan


Salah satu solusi yang dapat diandalkan adalah dengan cara proteksi. Namun, Adam menilai akan sulit bagi Indonesia untuk dapat membuat filter barikade dan memblokir masuknya game asing.

Ia membandingkan dengan China di mana game dari negara itu mudah masuk ke Indonesia, namun permainan lokal mengalami kesulitan saat akan masuk ke pasar Negeri Tirai Bambu. Bahkan, satu game bisa membutuhkan waktu tiga tahun untuk mendapatkan izin.

Meskipun dengan segala permasalahan yang ada, Adam menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia dan Korea sedang membicarakan kerja sama bilateral dua negara terkait publishing game.

"Dari Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), Kementerian Luar Negeri dan saya diundang ke sana," ujarnya.



Selain itu, ia juga mendukung adanya perusahaan asing yang menanamkan modalnya di industri game Indonesia dan tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar. Perusahaan game asing seharusnya membangun kantor agar dapat mempekerjakan pekerja lokal dan terjadi transfer of knowledge.

"Kalau mereka ke Indonesia cuma jual game, kita hanya jadi pangsa pasar," ujarnya.

"Jadi kalau ada developer mau masuk ke Indonesia, saya dukung hanya saja jangan cuma menjadi customer service dan support tapi harus ada juga transfer knowledge," tambahnya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading