Gandeng DMI Jusuf Kalla, BSI Bidik Potensi ZISWAF Rp 500 T

Syariah - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 September 2021 18:01
Direktur Information Technology PT Bank Syariah Indonesia Tbk Achmad Syafii (tiga dari kiri) dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia H Imam Addaruqutni (dua dari kiri), Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi (paling kiri) dan Ketua Umum DMI H Muhammad Jusuf Kalla (paling kanan). Dok BSI

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) pimpinan Jusuf Kalla bersinergi mengoptimalkan peran masjid untuk penguatan ekonomi masyarakat.

Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, mengatakan sebagai langkah awal, BSI dan DMI akan mengimplementasikan layanan QRIS (Quick Response Indonesia Standard) untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi zakat, infak, shadaqah dan aktivitas keuangan lainnya untuk masjid.

Melalui kerja sama ini, BSI akan menyediakan layanan untuk masjid-masjid di bawah naungan DMI berupa Layanan QRIS untuk mempermudah penerimaan Kas dan ZISWAF (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) dari jamaah secara cashless, sekaligus menyukseskan tercapainya target 12 juta merchant QRIS yang dicanangkan oleh Bank Indonesia di tahun ini.


Layanan lainnya yakni rekening pengelolaan dana masjid lengkap dengan layanan net banking dan jasa perbankan syariah lainnya, serta Aplikasi Digital Masjid yang dapat menghadirkan keterbukaan informasi keuangan, informasi ibadah maupun kajian masjid yang dapat diakses baik oleh pengurus maupun jamaah masjid secara realtime kapanpun dan di manapun.

Direktur Utama BSI, Hery Gunardi mengatakan potensi ekonomi kerakyatan salah satunya potensi ZISWAF yang mencapai Rp 500 triliun dapat dikelola dengan baik, transparan, digital.

Adapun penandatanganan kesepahaman optimalisasi masjid tersebut dilakukan oleh Direktur Information Technology BSI Achmad Syafii dan Sekretaris Jenderal DMI Imam Addaruqutni, disaksikan Ketua Umum DMI H. Jusuf Kalla, Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar, dan Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi dan Kewirausahaan DMI Sofyan Djalil.

Penandatangan dilakukan di Kantor Pusat Bank Syariah Indonesia, Gedung The Tower Jakarta, Rabu (29/9).

Hery mengatakan saat ini masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat peradaban bagi umat Islam.

Karena masjid dapat berfungsi sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi umat, seperti penyelenggara Baitul Maal, unit pelayanan zakat, infaq dan shodaqah.

Oleh karena itu, masjid menyimpan potensi yang sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan umat sekaligus menjadi pilar penting terwujudnya cita-cita Pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

"Kedepannya, kami berharap dapat bersinergi dengan Dewan Masjid Indonesia di bawah dukungan Kementerian Agama dalam mengoptimalkan pengelolaan dana masjid, sehingga semangat untuk memakmurkan dan dimakmurkan oleh masjid dapat tercapai," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum DMI Jusuf Kalla dalam sambutannya menjelaskan bahwa ekonomi syariah memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia.

JK menyebut pembiayaan mudharabah yang menjadi salah satu produk unggulan perbankan syariah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan modal ventura yang sedang menjadi trend pembiayaan saat ini, namun dengan sistem bagi hasil.

Untuk itu, JK menyambut dengan positif kerja sama yang dilakukan antara DMI dan BSI agar bisa menjadi salah satu jalan memakmurkan masjid.

"Yang kita lakukan hari ini bersama-sama semoga mempunyai manfaat, karena masjid memiliki potensi untuk menjadi costumer. Semakin makmur jamaah, akan makin makmur masjidnya. Kerjasama ini penting untuk mendorong jamaah mengamalkan kebaikannya. Jadi sistem syariah ini luar biasa kalau dijalankan dengan sistem yang baik. Kita mengapresiasi BSI yang bisa berkembang," ucap Jusuf Kalla.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyebut kerja sama yang dilakukan oleh BSI dan DMI bisa memaksimalkan potensi besar dari masjid yang ada di Indonesia, yang jumlahnya hampir mencapai 800.000 masjid.

Karena itu, Kamaruddin menyebut masjid saat ini tidak lagi menjadi pusat pengembangan agama saja tetapi harus bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi untuk umat. Hal senada juga disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng, yang mengatakan upaya BSI membawa produk digitalnya ke masjid akan mempercepat pemberdayaan umat.

"BI [Bimas Islam] menyambut positif apa yang dilakukan BSI dan DMI hari ini, karena masjid adalah tempat yang strategis untuk pemberdayaan umat. Dalam pemulihan ekonomi di masa pandemi, digitalisasi dan inovasi adalah kuncinya. Ada 3 manfaat inovasi dan digitalisasi, yaitu meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan partisipasi dalam segala aktivitas," kata Sugeng.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading