Wamen Tiko: Rights Issue BRI Rp 96 T Terbesar di Bursa RI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 September 2021 17:05
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (CNBC Indonesia/Lidya Kembaren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (Wamen BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menyebut aksi korporasi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau rights issue yang dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) merupakan rights issue terbesar yang dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @tiko1973, Tiko, panggilan akrabnya, mengatakan aksi korporasi ini bernilai sebesar Rp 96 triliun.

Dari nilai tersebut, pemerintah menyerap sebanyak Rp 55 triliun dalam bentuk inbreng atau penyertaan saham Seri B milik pemerintah di PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani/PNM ke BRI. Dengan demikian BRI menjadi induk dari Pegadaian dan PNM.


Sedangkan sisa saham rights issue sebesar Rp 41 triliun adalah hasil penyerapan dari investor publik.

"Officially The Biggest Right Issue in Southeast Asia, The Biggest Ever Right Issue in IDX. Rp 96 triliun. [Resmi rights issue terbesar di Asia Tenggara, right issue terbesar yang pernah ada di BEI Rp 96 triliun]," tulis Tiko, Rabu (29/9/2021).

Instagram @tiko1973Foto: Instagram @tiko1973
Instagram @tiko1973

 

Dia menyebut, dengan dilakukan rights issue ini dan inbreng saham Pegadaian dan PNM terbentuklah Holding Ultra Mikro (UMi).

Holding ini akan menjadi mesin untuk peningkatan inklusi keuangan sekaligus bisa memfasilitasi 15 juta hingga 30 juta nasabah ultra mikro di Indonesia.

"Memegang ultra mikro akan menjadi mesin untuk inklusi keuangan dan meng-onboard 15-30 juta nasabah Ultra Mikro ke untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih sejahtera," kata mantan Dirut PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) ini.

Sebelumnya, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan dari aksi korporasi ini secara total perusahaan memperoleh dana senilai Rp 95,9 triliun. Dari 28,2 miliar saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan diserap seluruhnya oleh investor bahkan mengalami kelebihan permintaan hingga 1,53%.

"Tadi sudah kita dengar berkali-kali rights issue ini dilakukan dengan tujuan pembentukan holding ultra mikro. Dari 28,2 miliar saham baru, terserap dengan nilai Rp 95,9 triliun dan bahkan mencapai over subscribed 1,53%," kata Sunarso dalam perdagangan rights issue, di BEI, Rabu ini (29/9).

Sunarso menyebutkan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menciptakan nilai ekonomi dan nilai sosial. Inisiatif ini juga mendukung peta rencana BRI untuk menjadi most valuable banking group di Southeast Asia dan menjadi champion of financial inclusion.

"Kita ingin create value buat stakeholder dan pastikan sumber pertumbuhan baru dan sumber pertumbuhan baru yang DNA BRI adalah UMKM, jadi kita harus jadi jawara dan juara dalam financial inclusion," tegasnya.

Untuk diketahui, aksi korporasi ini dinilai sangat besar berkat hasil pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro yang dipimpin oleh BRI dan beranggotakan Pegadaian dan PNM.

Pemerintah menyerap haknya di saham BBRI tetapi bukan dengan dana tunai, melainkan inbreng saham Seri B milik pemerintah di Pegadaian dan PNM ke BRI sehingga dua BUMN tersebut menjadi anak usaha langsung BRI.

Pemerintah telah mengeksekusi 16,1 miliar HMETD miliknya pada 13 September 2021 melalui inbreng saham Pegadaian dan PNM senilai Rp 54,77 triliun. Sedangkan, dari publik, BBRI meraih dana sebesar Rp 41 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Garuda Bisa Bangkrut, Utang Lessor Mau Dipangkas Jadi Rp 37 T


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading