OJK: Susah Nyari Pimpinan Bank Syariah di Indonesia

Syariah - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
25 February 2021 16:15
Suasana pelayanan kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Senin (1/2). PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) resmi beroperasi. Direktur Utama BRIS Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi ketiga bank BRIsyariah, BNI Syariah dan BSM telah dilaksanakan sejak Maret 2020 atau memakan waktu selama 11 bulan.

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia (RP2SI) 2020-2025, Kamis (25/2). Dalam pernyataannya, OJK mengungkapkan salah satu tantangan ialah sulitnya mencari SDM di perbankan syariah di Tanah Air.

"Kami ingin sampaikan setiap pergantian pimpinan, sangat kesulitan mencari SDM. Memang tidak mudah, maka itu dari berbagai asosiasi bsisa dituntaskan segera," Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dalam peluncuran Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia 2021-2025 secara virtual, Kamis (25/2).

Roadmap ini merupakan pelaksanaan dari Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia 2021-2025 (MSPJKI) yang telah diluncurkan beberapa waktu lalu.


Dengan tantangan ini, Heru mengatakan peningkatan SDM perlu dituntaskan agar perbankan industri keuangan syariah Indonesia semakin berkembang.

"Berbagai hal semakin sulit, termasuk saat melakukan fit and proper test," kata Heru.

Dia juga menilai, asosiasi keuangan syariah harus bisa memberi dukungan untuk menuntaskan permasalahan ini. Asosiasi perbankan syariah juga diharapkan bisa memberikan perhatian besar terkait dengan tantangan di bank-bank syariah ini guna mendorong pengembangan sektor ini ke depan.

Heru menegaskan, perbankan syariah juga belum memiliki diferensiasi model bisnis yang signifikan. Padahal, untuk bisa bersaing dengan bank konvensional, bank syariah harus memiliki produk dengan kualitas yang lebih baik dengan prinsip syariah.

Tak hanya itu, teknologi Informasi (TI) perbankan syariah juga belum memadai. Ini penting mengingat pada masa pandemi ini, nasabah ingin kemudahan dalam melakukan transaksi tanpa harus ke bank adan ATM untuk sekadar melakukan transfer.

"Teknologi ini jadi hal yang sangat penting untuk dientaskan. Tetapi ini tentu butuh modal sehingga penguatan permodalan tidak boleh kita lepaskan," katanya.

Heru membeberkan memang ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus dipenuhi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah agar menjadi raksasa di sektor keuangan.

"Adanya tuntutan dari bank syariah, ada cita-cita mendorong perbankan syariah memiliki pangsa pasar yang hingga kini masih sulit diwujudkan. Ini PR kita agar masyarakat melek keuangan dan perbankan syariah," kata Heru.

Selain SDM, dia menuturkan bahwa ada beberapa tantangan yakni pemodalan, daya saing produk dan layanan keuangan syariah serta rendahnya riset dan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Sementara itu ada tiga pilar agar market share atau pangsa pasar bank syariah bisa mendominasi. Pertama, penguatan identitas perbankan syariah, kedua sinergi ekosistem ekonomi syariah, dan ketiga penguatan proses, pengaturan dan pengawasan.

"Berbagai tantangan tersebut kita ingin menyampaikan bahwa kondisi ini harus segera diatasi. Sehingga nasabah bisa memilih produk yang mereka harapkan dengan dengan kualitas terbaik. Semoga ini menjadi percepatan guna melanjutkan pilar selanjutnya," papar dia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading